Friday, August 12, 2022

Seni Dalam Ruang Operasi



Memainkan ritme, hirarki intensi, grafik ketegangan, dan menjadi bagian dari langkah yang dibuat adalah salah satu bentuk berseni. 

Sekitar 14 tahun lalu pernah secara takdir dipertemukan oleh seorang dokter kandungan yang memiliki "spek" konsulen dan memiliki keahlian sekaligus penemuan dalam teknik sayatan bedah. Dokter kandungan ini memiliki teknik bedah yang bisa membuat sebuah operasi tumor rahim besar yang memiliki resiko pengangkatan rahim berlangsung aman dan berakhir baik. Tanpa mengangkat rahim, dan rahim masih berfungsi. Sang pemilik rahim masih bisa memiliki anak lagi. 

Banyak pengetahuan yang bisa tersimak pada saat itu dari sisi non medis. Mulai dari cara mempersiapkan operasi, tools yang dipakai, gesture yang ditampilkan, dan treatment pada pasien yang tak seperti prosedur operasi biasa yang cenderung kaku dan membuat kalut. Ingat sekali saat itu sang dokter memakai jubah bedah berwarna hijau terang berlengan sangat pendek seolah hampir seperti baju kutung, dan gesture santai sang dokter yang sambil siul lalu menyambut pasien yang sudah harus duduk di kursi roda dan didorong perawat. Sang dokter berdiri di depan pintu operasi dan mempersilahkan sambil berkata, "Yuk, mangga lebet". Begitu ramah dan santai. 

Pengalaman tersebut masih lekat kuat di memori. Karena memang sebelumnya mendengar kata operasi itu sangatlah terasa serius. Walaupun memang itu adalah tindakan serius. Namun untuk masuk ruang operasi memang seharusnya tidak langsung dalam grafik ketegangan yang tinggi. Sebuah hal serius memang sebaiknya dimulai dengan kesadaran tertinggi, dan kesadaran tertinggi (act by enlightment) tidak bisa dimulai dengan ketegangan karena ketegangan adalah bagian dari kesadaran rendah (act by fear). 

Cerita operasi tersebut menjadi pegalaman berharga yang bisa jadi bekal saat menghadapi dan mengamati kejadian penting yang beresiko besar, terkait nyawa, negara, atau mungkin nama baik. Sebuah sesi workshop memperkuat alasan ini. Sang fasilitator sempat berkata bahwa alam sadar yang ditandai dengan munculnya rasa ingin (bergerak, mencapai, menjadi bagian tujuan tertentu) akan memiliki value yang tinggi jika disertai dengan olahan harmoni alam bawah sadar, atau bisa dikatakan, jika bisa menari dengan alam bawah sadar. 

Sebuah tindakan penting akan memiliki impact dan pembelajaran besar, jika tak mau disebut sejarah, diwariskan menjadi legenda, dan pelakunya menjadi pahlawan, jika dilakukan dengan harmoni dan dukungan semesta. 

Alam bawah sadar adalah alam yang seringkali dianggap alam lain yang tak bisa dikontrol dan banyak juga yang tak percaya, khususnya para analis dan ahli teori. Sedangkan bagi para praktisi mindfulness, ketidaksadaran ini bisa dijejaki dengan merasakan dan membuat semua gerak terskalakan dalam ritme nafas. 

Merasakan nafas adalah kuncinya. Jika dalam kondisi lebih statis dan tenang, kita bisa merasakan detak jantung. Jika lebih statis lagi, maka bisa merasakan gerak angin, kehadiran, dan gerak yang ada di sekitar, seperti ranting, pepohonan. Inilah salah satu pengaruh yang bisa dihasilkan saat menjejaki sebuah aktivitas yang tak bisa dikontrol (seperti gerak jantung dan nafas ketika harus melakukan aktivitas intens di ritual berbasis panca indera). 

Seringkali ketidaksadaran memang tak terlalu terasa dalam ritme tinggi, kecuali memang refleknya sudah dilatih untuk terkondisikan tenang dalam aktivitas beritme tinggi. Apakah harus dilatih untuk bisa mengontrol/memiliki reflek--gerak tak disadari dan hal-hal yang dilakukan dalam ritme tinggi? Jawabannya tentu relatif. Bagi yang merasa hidup ini harus dinikmati dan disyukuri, tentunya sebuah langkah yang bisa menguatkan rasa nikmat dan syukur akhirnya harus dieksporasi jua. 

Akhirnya bagi para penikmat seni, seni adalah momen berdansanya kesadaran dan ketidaksadaran dalam lantai dansa bernama nurani. 

 

Wednesday, August 10, 2022

Eksplorasi Deduktivisme a.k.a. Teknik Ngemong




Istilah "Bangsa Indonesia lebih senang dengan pendekatan induktif" rasanya kurang tepat. Mungkin  "Anak bangsa lebih senang dengan pendekatan deduktif, dan warga Indonesia lebih senang induktif" rasanya  akan lebih tepat.

Bagi bapackbapack yang hampir tiap hari anter anak sekolah dari jaman TK pake motor, perubahan anak dari posisi dibonceng di depan lalu karena sudah tumbuh tinggi lalu harus  duduk ke belakang adalah hal besar yang tak terduga. Sebelumnya, di perjalanan biasa ngobrol pake style tutur kata induktif lalu harus diubah jadi deduktif. Perubahan yang cukup signifikan. Jurnalis/penulis tentunya akan paham rasa bahasa ini.

Perubahan cara berliterasi ini sangat terasa dan mengejutkan karena di saat yang sama pekerjaan banyak terkait dengan fasilitasi dan kampanye literasi.  Perubahan posisi duduk ini sama sekali tak menjadi perhatian pada awalnya.  Khususnya untuk yang mengantsr anak pake roda dua.

Mungkin akan berbeda pengalamannya bagi yang memakai roda empat untuk mengantar anak.  Risetnya akan berbeda.

Bertumbuhnya anak sejak TK tak hanya fisik saja. Cara bertutur, berpendapat dan berinteraksi (khususnya saat perjalanan mengantar ke sekolah) tumbuh beriringan. Kini begitu terasa,  anak yang sudah berumu tanggung (umur 11 tahun) ini  cara berbicaranya mulai mix. Kalimatnya lebih panjang. Ide dalam setiap tuturnya semakin dalam. Sudah punya teritori untuk pendapatnya, walau  masi belum bisa melepaskan diri dari sosok (intensi) orang tuanya, dan ini sudah pernah terpetakan sebelumnya. Satu hal baru yang butuh penyesuaian/gesturing adalah seputar penyikapan posisi duduk.

Seiring berpindahnya posisi duduk, maka mulai ada bahasa baru yang dipelajari, yaitu bahasa peluk. Cara peluk anak saat dibonceng itu berbeda, saat ia lelah karena belajar keras, lelah karena bosan, atau memang mengantuk. Mulai hapal beberapa gestur khas ini. Cukup membantu dalam eksplorasi dunia deduktif ini.

Kalo dalam pertemanan, teknik literasi bisa kita disebut teknik berbasa-basi. Cara ini biasanya menempatkan rangkaian ide secara berurutan sebelum sampai kepada pesan utama. Tapi khusus untuk mengurus anak, istilahnya mungkin bukan basa-basi. Istilah "ngemong" terasa lebih pas.

Ngemong itu seperti menaikkan layangan. 

Pada layangan, ada benang yang menghubungkan kita dan layangan, dan ada angin yang membuat layangan itu berubah fungsi jadi alat pengarung angin. 

Sedangkan basa-basi itu seperti ngurusin orang orangan sawah. Butuh angin, hanya untuk perkeras "bunyi". Ya bisa saja layangannya bentuk orang-orangan sawah. Tapi tetap fungsinya akan beda. Apalagi feel-nya.

Angin dalam analogi ini adalah konteks. Saat ngemong, kunci utama dalam membuat emongan berhasil adalah konteks. Apakah bisa kita memanfaatkan konteks untuk membuat anak mengetahui perannya, ya kalo bisa manfaat dirinya saat ada di keluarga.

Jika dalam interaksi biasa, yang bukan ngemong, kita bisa memanfaatkan konteks untuk membuat individu lebih "berbunyi". Bisa dibilang kalo dari bahasa social engineering, ngemong itu adalah aktivitas yang membuat orang menjadi tak hanya dirinya, tapi juga bagian dari social body. Bagian dari dimensi yang lebih tinggi dari "menjadi", yaitu dimensi wadah. Mewadahi.

===
*Sementara baru bisa share itu dulu. Ide tulisan ini didapat saat perjalanan pulang antar anak. Saat ini waktunya cuci motor. Siapa tau dapat ide lagi. Doakan.


Wednesday, July 20, 2022

Orkestrasi, Gestur, dan Konstelasi



Istilah dinamika, bahasa halus dari tension, atau ketegangan yang terjadi antar kumpulan/kelompok, sejatinya bisa dijadikan momen dan area bertindak untuk menemukan solusi, sekaligus peta-peta arah baru. 

Sejak adanya teknologi yang menghubungkan hubungan antar individu menjadi lebih stream, (ter-)homogen(-kan), dan direct, maka timbul cerita seputar bagaimana orang menjadikan data sebagai magnet untuk mengarahkan arah pikir. Cerita ini juga berisi tentang  bagaimana menggunakan data sebagai arah bertindak secara kolektif. 

Saat hubungan antar kumpulan menjadi lebih stream, maka ditandai mendominasinya kumpulan yang bertindak berdasarkan task dan order.  Lalu diiringi kumpulan kecil terseok dan kumpulan kecil lain yang melompat-lompat di antara  task dan order

Di saat kumpulan mengalami homogenitas, maka ada aktivitas-aktivitas yang berbentuk siklus berulang. Siklus ini  membuat sekat dan ruang terpisah. Ruang ini berisi kelompok yang saling berkompetisi dan punya intensi untuk tidak saling peduli. 

Dalam homogenitas juga terdapat resiko terjadinya pengabaian terhadap empati, khususnya pada status kebersamaan (homogenitas). Akhirnya ikatan homogenitas hanya ditopang oleh simpul-simpul kesepakatan yang didasarkan intensi untuk mengotomatisasi, didasarkan penuh atas sistem yang bekerja tanpa jeda dan tanpa ruang adaptasi untuk mengatur napas/pace. Ikatan homogenitas beresiko tak lagi memanfaatkan kesadaran tertinggi (-untuk mempersembahkan) agar bisa jadi modal bertindak berdasarkan nurani. 

Cara menentukan benar dan salah akhirnya didasarkan atas "mesin" yang digunakan bersama. 

Kebersamaan ini salah satu dampak lain dari hadirnya teknologi dalam aktivitas berkoneksi dan berkomunikasi. Respon yang serba direct dari data, pola, dan informasi yang didapat  akan menimbulkan  respon yang bisa berakibat sistemik, kalo bahasa sekarang, viral dan menjadi trending. 

Saat menjadi viral, value-nya belum bisa mengarahkan para pencari cuan untuk mengarahkan minatnya, baru sekadar terpindai oleh panca indera dengan mudah. 

Tapi saat sebuah momen menjadi trending, maka akan menjadi rujukan, disertai value sosial yang meningkat, sehingga bisa menciptakan area transaksi value yang memengaruhi, bahkan bisa mengunci aset. 

Seperti halnya  yang terjadi pada setiap momen yang berbasis interaksi. maka akan selalu ada respon yang berasal dari pemindaian, pemikiran, perasaan, dan tindakan. Tak hanya mengandalkan sensor dari panca indera, respon saat berinteraksi bisa berasal dari orkestrasi organ, enzim, dan kelistrikan tubuh yang bernama kesadaran dan ketidaksadaran. Orkestrasi ini bisa terknoneksi menjadi orkestrasi kesadaran kolektif dan juga ketidaksadaran kolektif. 

Orkestrasi inilah yang saat ini bisa dikembangkan menjadi bahasa-bahasa yang sifatnya kolektif. Dimulai dari bahasa individual yang bernama gestur, atau sering kita kenal dengan bahasa tubuh, dan bahasa kolektif yang dikenal dengan istilah konstelasi, atau istilah lainnya adalah social grammar yang biasanya memiliki "dimensi wadah" untuk mengejawantahkannya dengan nama social body. 

Gestur individu adalah sebuah alat yang bisa dijadikan patokan untuk mengetahui respon yang ada di sebuah kondisi sosial yang terkondisikan oleh keadaan/issue tertentu. Gestur ini biasanya jika diletakkan dalam sumbu linier bisa dikenali dengan gestur stuck di sisi satu, dan gestur release di sisi lainnya. 

Gestur stuck biasanya terbentuk saat orkestrasi kesadaran maupun ketidak sadaran memosisikan diri untuk menolak kondisi yang sedang terjadi. Sedangkan gesture release ini biasanya terbentuk saat kesadaran dan /atau ketidaksadaran berhasil mengejawantahkan diri dalam aktivitas, gerak, dan tindakan. 

Tentunya ada cara lain untuk memetakan gestur tak hanya dengan sumbu linier, namun dari perjalanan pembelajaran sumbu linier ini sudah cukup banyak membantu untuk memetakan kondisi per individu yang sedang terjadi/berjalan (stream). 

Ketika kumpulan gestur memosisikan diri dalam sebuah titik momen tertentu, maka akan terbentuk konstelasi yang terlihat dan bersifat kolektif. Setiap gestur mungkin akan berbeda, namun biasanya mengarah pada situasi situasi baru yang dikehendaki. Jika kumpulan gestur ini memiliki ikatan yang sudah masuk dalam dimensi yang lebih tinggi, dimensi wadah, diwadahi dalam ruang yang mereka percayai (safe space), biasanya sebuah konstelasi akan mengarah pada arah baru yang lebih terbaca. Di sinilah kekuatan kesadaran kolektif bisa diamplifikasi malah sebagian dikapitalisasi dengan algoritma sosial berbasis interest, untuk menentukan peta baru (the future)

Tentunya konstelasi ini bukanlah cara meramal masa depan, atau cara berasumsi. Asumsi lahir dari bubble pikir yang bisa berkembang tak terkendali. Sedangkan tools ini  (konstelasi) merupakan salah satu cara untuk mensimulasikan situasi baru agar lebih terbaca seperti halnya keep line assist pada kendaraan terkini, atau tools pembaca arah dan jalan lainnya. Selain itu, kemampuan untuk membaca dan memanfaatkan  instrumen panca indera dengan orkestrasi kesadarannya bisa membuat  gestur yang lebih efektif sehingga menguatkan konstelasi. 

Berarti jika bicara tentang konstelasi, maka akan bicara tentang sesuatu yang memiliki intensi kolektif, atau intensi (ke-)bersama(-an). Kebersamaan ini lahir  dalam  gestur yang berada di dimensi yang lebih tinggi. Tak hanya di dimensi wujud, tapi mampu berada di dimensi (me-)wadah(-i), atau lebih tinggi lagi, (meng-)alir(-i), dan lebih tinggi lagi, (me-)restu(-i).  Karena restu bukan hanya tentang ijin untuk hubungan antar ikatan. Restu adalah tentang dukungan simultan atas sebuah keterhubungan. 

Karena saat ini, saat pertukaran social value berlangsung masif akibat amplifikasi algoritma sosial berbasis ritme gawai, keterhubungan saja tidak akan pernah hasilkan apa-apa, tak memiliki value yang bisa bertransformasi menjadi social capital.  

#datashaping #dataanalyst #socioengineering #systemsthinking #psychoanalysis #socialprofiling #visualprofiling

Wednesday, July 06, 2022

Orkestrasi Para Penakut



Apa enaknya ya pake Facebook sekarang? Saya aja yang bapackbapack buka Facebook cuma buat update slide foto profil fanpage kerjaan. Bukan tempat nunggu like juga. Algoritmanya cuma nampilin postingan sugesti. Mau tau kabar temen yang posting harus search profilnya. Kecuali untuk yang sering posting.  

Facebook (Fb) kini saya  gunakan menyimpan foto dan video lama. Karena lebih awet dibanding menyimpan di hardisk, flashdisk atau CD yang sebagian sudah bulukan. Walaupun file-nya harus terkompres. Untuk jaga-jaga, saya menyimpannya  juga di external hardisk, sekadar antisipasi kalo tiba-tiba Fb tutup toko kaya Friendster. Sempat juga membayangkan jika suatu saat kita punya teknologi berbasis bioteknologi yang memanfaatkan selulosa untuk menyimpan data di celengan bambu :D.

Ini bukanlah  keluhan.  Ini lagi menggesturkan diri saat ingin membuat  tulisan feature seputar "Facebook Nowadays with their Gabut-ism" .

Alih-alih menjadi datum, atau gembala yang arahkan domba, pada perkembangan terkini Fb seolah hanya jualan "toalet" buat dandan. Peran "beauty case" dan pengepul market real pun kini terambil oleh yang lain...terutama oleh Tiktok. Bagaimana dengan Meta? Orang awam sudah ga bisa menebak. Hanya untuk orang yang berani simpen duit untuk ambisi gila Zuckerberg.

Saya rasa rangkaian kalimat di atas sudah cukup pedas...

Tapi mungkin kurang kata penutup untuk calon artikel ini: Apakah Zuckerberg sudah terlalu percaya tren perusahaan IT cuma jaya sekali saja? Lalu cukup dengan mengambil jalan baru (dan baru) untuk memutar kapital? Atau kita akan melihat fb menjadi entitas lain semacam pengisi altar di kuil digitalnya yang baru?

Pada akhirnya Facebook harus belajar istilah lama: kita ga bisa hidup (mengatur orang lain) sendirian.


===

Dalam Fifth Dicipline yang ditulis oleh Prof Peter Senge, dari banyaknya perusahaan yang diriset, salah satu ciri perusahaan yang bisa bertahan lebih dari 100 tahun adalah: Share Vision. Bagaimana setiap orang dalam tim berhasil menganugerahkan tiap nafasnya demi kejayaan bersama. 

Saya ingat salah satu pesan sahabat saya, ciri sesuatu itu bisa panjang umur (dan panjang visi) adalah menjadikan diri dan sekitarnya lepas dari ketakutan (selalu menempatkan diri dalam kesadaran tertinggi) , dan tidak menjadikan sekitarnya sebagai bahan dasar pembuat takut walau hanya untuk menghibur dan menyehatkan,  demi sekadar untuk menggerakkan otot pipi (senyum).

Apakah yang diharapkan dari rasa takut? Karena tak ada yang bisa diharapkan dari penakut, sekeren apapun namanya, phobia kah, alergi kah, auto blablabla kah. Jika masa depan adalah sosok, ia hanya akan mendengar kabar kematian dari para penakut. 

Akhirnya yang mampu berjalan adalah yang berani. Bukan yang kuat. Karena sejatinya laksana senar gravitasi, apapun yang terkait dengan proses mewadahi, berproses untuk menjadi dimensi yang lebih tinggi, berujung tertambat di satu titik yang sama.

Apakah kita bisa menjadi pemberani, di sela sumbu sumbu dan koordinat yang ditegakkan oleh mesin jaman dan agen peradaban yang menginginkan kita terkontrol dalam dimensi total kontrol dan memiliki kecenderungan untuk cinta dunia dan takut mati (penakut)?





Koordinat berbasis sumbu pseudo, meta, auto, dan phobia akan merajai parameter para gembala mesin mesin organik dan proxy organisme. Jika kita terbiasa menjadi auto karena algoritma sosial, maka akan datang masa tren kita menjadi pseudo, dan sebagian terpisah di sisi meta.

Mungkin di artikel ini saya tak akan menjelaskan apa itu pseudometaauto, dan phobia. Istilah ini masih selaras dengan sense orang lain yang memahami dan membaca selintas term tersebut. Hal yang baru hanyalah korelasi dan positioning keempat term tersebut. 

Sumbu ini bukan piso bedah ala algoritma untuk membuat polarisasi. Tapi lebih ke sensor gestur berbasis empat sumbu tadi. Lalu bisa tergambar konstelasi nya. 

Dengan sumbu ini jadi bisa dipetakan dan bisa difigurkan cara mewadahinya. Bisa diukur bentuk dimensi wadahnya. Karena sudah bisa diukur, maka entitas yang memilih bergestur di zona phobia itu bukan sesuatu yang menakutkan lagi. Apalagi jika tidak bermain dalam ritme. Ritme kecil maupun besar.

Apa itu ritme? Bisa dibilang ritme adalah susunan unit partikel berbasis diam dan gerak. Dalam bahasa sistem, diam ini dibahas akan dengan stuck.... dan gestur stuck ini biasa keluar dari orang orang yang takut yang sudah melepaskan kemampuan mengontrolnya.

Dalam kesadaran tertinggi, stuck adalah representasi dari "mata gir kosong", atau kondisi paused, istilah lain untuk menanti momen masuk dalam kerja sistem. 

Jadi ga usah khawatir untuk merasa takut. Tapi khawatir lah saat merasa benci. Karena benci adalah representasi dari proses "merusak untuk memberi kesan selesai".

Pada akhirnya, teknologi dibuat untuk manusia. Cerita yang timbul akan selalu berkutat di kata "untuk". 

#datashaping #dataanalyst #socioengineering #systemsthinking

Thursday, June 23, 2022

Hak Tolak

 

Hak tolak dalam jurnalistik sejatinya adalah hak untuk mengatur ritme sebuah hubungan sosial berbasis rasa percaya. Alih-alih untuk menjaga akses ke narasumber, hak untuk  diam ini seringkali disalahgunakan untuk membuat berita yang "diarahkan". 

Seorang rekan memberikan pernyataan di ruang sosial medianya untuk tidak membagikan nomor HP pribadinya tanpa seijin beliau. Di era fitnah akhir jaman ini, sebuah simpul hubungan-berbasis kapasitas kapitalnya, bisa berbentuk G (Government) to G, B (Business) to B, B to G, G to P (Peer), B to P atau P to P. Dari resiko yang bisa terjadi, bisa disimpulkan pernyataan beliau benar dan selayaknya untuk mendapat dukungan.

Ini bisa dibenarkan dari sisi mental model para enthusiast jurnalistik. Bagaimana sih seharusnya akses ke narasumber itu disimpan rapat rapat (hak tolak). Karena tidak lagi hanya berupa nomor, tapi juga punya value. Ketika sesuatu memiliki value, maka akan muncul profit. Profit ini ga bisa dipegang sendirian.

Saat kita menjaga, maka bagi narasumber itu adalah profit untuk dia. Value untuk kita. Jika tidak dijaga (disebarluaskan), maka dia harus dapat profit dari apa yang kita share. Ini bukan tentang untung rugi. Ini bagaimana cara menjaga sebuah ikatan mutual, seringkali berbasis rasa percaya. Menjaga agar kita terus dapat bertindak dalam kesadaran tertinggi.

Fenomena ini belum disangkut pautkan dengan kelakuan dan respond-impact makhluk makhluk yang terhanyut dan tenggelam dalam algoritma digital. Belum. Ini masi pake teori klasik. Link ini adalah salah satu referensi yang cukup "membumi" terkait kesadaran. Bukan penjelasan kesadaran teoretis dan seolah mengawang awang ala teori social engineering yang harus dipraktekkan di"lab" dan "bersuhu kamar" .

Alhamdulillah, ada untungnya juga dulu "diceburin" Sang Pengatur Kadar untuk belajar "menjembatani" (menjaga simpul hubungan ) di ruangan "lab" (ruang simulasi-artifisial/berbasis kapital) yang (bersuhu kamar) oportunis, fatalis jadulis. Akhirnya pada waktunya, siapapun yang terlatih akan bisa menajamkan awareness-lebih cepat siap . Terlatih cepat memetakan kondisi yang "bersuhu kamar" (dikondisikan), jadi cepat nyari kartu truf dan serangan balik 😋😅🙏

Saturday, May 21, 2022

"Moksa" Meninggalkan Dimensi Fungsi (f)



Saat terjebak untuk ribut karena perbedaan, maka sejatinya kita sedang membantah sebuah barang yang jelas-jelas ada dan hadir. Sedang menolak semesta untuk hadir mendukung intensi kita.

Beberapa dari bapak bapack dan emack emack adalah produk social engineering di jamannya yang di-instal pake mantra "duaan duaan ulah sisirikan anu eleh dikaluarkeun sakali jadi" dan "hom pimpa alaihum gambreng"... Sebuah mantra untuk menyatukan perbedaan yang dikemas dalam artikulasi permainan.

“Sakali jadi" dan "gambreng“ itu kata lain dari "Kun fa ya kun" ;)

Dan mantra-mantra lainnya yang kategorinya bukan doa. Doa itu kalo dilihat dari bentuk seperti "simpul" individual... Sedangkan mantra lebih berupa “simpul" kolektif. Mungkin suatu saat ada yang eksperimen menjadikan mantra tersebut ("duaan duaan..."atau “hom pimpa..") sebagai doa saat mau berhubungan dengan niat bikin anak. Kita akan bisa lihat bedanya dan impact nya pada struktur myelin anak 😬

===

Obrolan di atas menjadi pembuka obrolan bebas dan lepas semalam tentang "kejadian"... " Ikhlas"... dan "moksa" dalam kerangka yang lebih terpetakan secara fungsi (f). Sebuah cara untuk menggenerik kan trust.. atau dalam bentuk tiga dimensional dipetakan dalam force (F).

Trust sendiri adalah ranah yang seringkali disamakan dengan belief. Padahal beda. Belief disusun oleh artefak-artefak sistem dan fungsi. Sedangkan trust bisa lepas dari dua hal itu. Kemiripan terjadi karena keduanya mengandalkan "simpul"... Bahasa lain dari hizb dan/atau mantra, atau bahasa kerennya sekarang social algorithm.. #suitsuiw

Di sisi lain ada kesenjangan/gap mindset yang seringkali menyamakan peran hizb dan doa. Doa membutuhkan intensi individual, sedangkan Hizb membutuhkan intensi bersifat kolektif dan kadang hirarkikal. Doa tak membutuhkan ijazah/sanad. Bisa langsung berfungsi di proses internalisasi diri. Hizb membutuhkan gerbang sanad (restu guru) yang talaqqi (diturunkan dengan metode kontekstual, berbasis 5 sense experience)..

Ketika sesuatu bersifat komunal dan hirarkikal, maka sesuatu tersebut akan punya ujung, punya akhir, yang sifatnya berupa proses pengacakan/pengacauan. Beberapa artefak sistem menunjukan proses pengacakan ini bisa dihindari dengan mengurai diri dengan sadar. Melepas fungsi dan hirarki.

Melepas fungsi dan hirarki ini bisa dalam bentuk fisik (mengubah/menyamar/menyatukan diri dengan elemen alam lain) atau melepas peran. Banyak artefak sistem yang menunjukkan pola ini, seperti "moksa"nya Prabu Siliwangi, terurai nya hirarki tokoh kerajaan Selaparang, dll

Penguraian ini tak bisa terjadi jika belum menguasai ilmu tertinggi: ikhlas. melepas semua. Melepas pijak, melepas simpul yang mengikat ubun, dan percaya 100% sistem makro dan mikro adalah kerja siklus yang simultan.

Dengan ilmu tertinggi, yaitu ke-ikhlas-an, sebuah kerja tak lagi dalam dimensi (f), tak lagi bisa hancur, karena seperti prinsip energi, semua bergerak. Jika ada yang berhenti dalam sebuah simpul waktu, itu hanya untuk menunggu, menuju terkuatkan atau terpecah. Lalu berlaku simultan.

Sehingga sebuah keniscayaan jika momen yang terjadi dalam dimensi berbasis fungsi akan bisa terpetakan dan terbaca. Jika kita mundur dan naik sedikit, dalam helicopter view, maka kita bisa melihat sebuah keterkaitan. Sebuah peta tentang sistem.

Ketakutan -jika kita hilangkan variabel waktunya- terjadi karena masa depan, masa kini, dan masa lalu itu ga sinkron. Ketidaksinkronan adalah sebuah ciri sesuatu itu tidak menjadi ada, berarti meninggalkan jejak kehampaan. Padahal kejadian adalah sebuah ke-ada-an, sebuah hal yang harusnya berjejak, bisa diukur, dan berdampak. Ada dan tiada, adalah cara mengukur, penanda/patok, bagaimana sebuah dimensi berbasis fungsi bekerja. Di sinilah kita bisa melihat bagaimana sebuah proses yang sering diidentifikasi dengan "moksa" bisa terjadi.

Ketakutan dan ketidaksiapan itu barang yang mirip baunya beda. Ketakutan adalah sebuah fungsi yang bekerja pada dimensi tanpa fungsi, sedangkan ketidaksiapan adalah sebuah keadaan dimana fungsi diharapkan bisa bekerja dalam kesadaran reflektif (autopilot). Jika sebuah momen berisi ketidaksiapan, bisa dijamin 100% sebuah momen tidak akan memiliki mestakung. Resiko besarnya adalah, ada resiko menggerus value yang sudah terbentuk.

Ketidaktahuan beda lagi. Ketidaktahuan itu seperti ampop yang dilem diberikan saat sunatan, atau imlek. Ia hadir di tengah kepastian, di tengah sesuatu yang jelas ada. Justru bisa jadi obat, dan senjata yang bermanfaat. Ketidaktahuan jika tak digunakan secara imbang akan menghasilkan ketidaksukaan. Kalo sebuah ketidaksukaan ujungnya tentang menyingkirkan (peng- tidak ada- an), dampaknya bisa memperjelas jejak masa lalu dan masa depan.

Jika ketidaksukaan digunakan sebagai tools penanda dan pengukur, maka ketidaksukaan bisa berfungsi sebagai hollow point, atau penjeda, dan tanda untuk mengubah pace. Penanda masi ada kebodohan, (knowledge yang belum terinstal) di dalam diri kita.

Dan ketidaksukaan bisa jadi rejeki (penambah value) atau malah dosa (pengurang value). Rejeki jika dimanfaatkan untuk menenteramkan sistem, dosa jika malah berakibat merusak tatanan sistem.

Bagi para praktisi sistem, menikmati paparan bukanlah hal utama, melihat gestur bahkan mikro gestur aja sudah sebuah bahasa. Seringkali paparan dibutuhkan untuk momen verifikasi, atau bersifat administratif semata.

Jika sebuah sistem memasukkan unsur "art" di dalamnya maka spontanitas dan kejujuran akan masuk ke variabel sistem. Menjadi bisa diukur/dipetakan, namun baru terlihat polanya saat disimulasikan dalam 4 dimensional, mengaitkan diri (dengan knowledge dan intensi) sebagai wadah untuk objek yang diukur. Jika hanya dalam kacamata 3 dimensional, hanya melihat dari luar, maka sebuah peta sistem tak lagi berfungsi secara komunal, kasarnya, tak lagi menghasilkan mestakung ;), tak lagi jadi "mantra", atau simpul komunal, yang bisa menjadi titik pembangkit, katalis dan booster kesadaran dan photographic memory di situasi tertentu, dan hanya jadi tontonan yang susah diurai maknanya. Selain itu, intensi mengubah karakter spontanitas dan kejujuran akan terdeteksi jejaknya. Intensi ini bisa terpetakan dari masa lalu (motif, genetik, bahasa jawanya 3B--> bebet, bibit, bobot), dan masa depan (konstelasi besar, bentuk baru).

Maka berhati-hatilah dalam memainkan dimensi fungsi berbasis spontanitas tanpa kesadaran di level tertinggi (to enlight), keikhlasan, dan kepercayaan.


Saturday, May 07, 2022

Mengurai Simpul



Manusia itu hebat, sekaligus juga rapuh, jika membiarkan dirinya dalam rasa tahu yang menutup ketidaktahuan.


Menyaksikan serial kisah para illustrator Disney di Disney+hotstar sungguh membuat saya merenung. Dari semua illustrator, motifnya karena ada "calling"... Ada panggilan yang menggerakkan. Beyond self. Kalo cuma skill doang, memang ga akan sampai puncak. Apalagi modal sikut. 10 tahun bertahan itu si itungannya masa tenggang.

Banyak yang mempelajari sesuatu dengan mengabaikan support system di luar dirinya. Ya, keluarga itu salah satu (dan biasanya restu ibu/istri jika sudah menikah cukup dominan). Tapi ada banyak support system lain, yang baru terlihat saat kita melakukan analisa diri dengan helicopter view.

Support system ini berada dalam blind spot kita. Perspektif "self" seringkali tidak akan mendeteksi support system ini, hingga pada satu titik biasanya terasa. Di titik 0, atau di titik di mana kita menyerahkan diri kita pada kehendak semesta, di saat kita melawan arus besar.

Jika memang suara hati kita harus melawan sesuatu yang memang bagi kita terasa "tidak manusiawi", lawan semampunya. Jika memang sudah tidak kuat, serahkan pada semesta. Ga harus menyerah. Karena semesta punya sistem yang ajib. Kekuatan diri itu fungsinya memang untuk tahu batas.

Tepatnya: jangan menyerah. Kembalikan semua urusan ke sistem semesta. Maka perlahan/ada yang cepat juga si, kita mulai rasakan support system yang bekerja dengan indah (biasanya membuat speechless).

Support system yang ada di blindspot kita bisa dipetakan dengan beberapa cara, banyak si. Biasanya memanfaatkan "entitas pemantul", berupa partner, yang bisa menjadi penjaga ritme. Karena tanpa ritme yang baik, susah untuk memetakan sesuatu, apalagi memetakan diri.

Nama metodenya bisa beragam, ada case clinic, ada yang namanya retret, ada yang namanya tadabbur, ada yang namanya tafakur... Semua itu arahnya satu: Singkronisasi. Banyak terkait dengan pace (ritme pikir, ritme nafas, ritme aktivitas) diri dan sekitar. Lebih tentang ritme. Meditasi, kontemplasi, itu tools yang beda. #imho kontemplasi, meditasi, itu akan lebih mangkus dan sangkil saat singkronisasi sudah baik. Pace sudah terpetakan. Malah meditasi, kontemplasi, itu bagi saya sudah kategorinya "senjata", tools yang bisa dipakai untuk menyimpul, mengubah dan memecah. Cenderung resiko jika pace belum bener.

Lalu apa itu mindfulness? Bagi saya itu semacam nge-route, mengurai kembali jalur, merasakan value yang ada dari setiap titik titik momen. Ya sehari cukup sehari lah. 1/3 malam/pagi #imho. Karena melelahkan dan takes time untuk recovery nafas. Karena bisa nangis-nangis juga.

Kenapa menulis tentang beginian? Karena akan datang momen dimana butuh ruang nafas kita lebih besar.... Apalagi kalo yang ruang nafasnya sudah keserang ketakutan akan pandemi dll. Akan butuh banyak momen untuk jaga pace dan singkronisasi, tepatnya demikian ;)



Wednesday, March 02, 2022

SANG PENGUNCI





Perjalanan ke timur adalah perjalanan kembali bagi para pencari ilmu tertua: keikhlasan. Perjalanan yang akan melepas semua kenangan yang membuat diri terputus dari semesta yang terlanjur percaya. 


"Banyak ilmu yang di-malamatiyah-kan (dibungkus dalam kehinaan -red) untuk mencegah ilmu itu dimanfaatkan makhluk caper perusak bumi. Hanya orang yang tau pentingnya esensi pahit yang bisa menggunakannya," - Jepri, pengamen di terminal sekitar Kota Cirebon, yang juga ahli rajah.


"Sahabat Nabi, mengistilahkan, 'Ilmu ada dalam 2 karung ujar beliau.. Karung yang pertama dibuka untuk umum. Karung satu lagi ditutup karena selain rawan fitnah'.  Memang belum (/ada) saatnya dibuka.  Kepahitan adalah satu gerbang ilmu malamatiyah.”


"Menjalani kepahitan yang sangat, selain melebarkan spektrum pikir, juga mempertajam lidah, hidung, mata, dan semua panca indera. Bangsa ini banyak diberkahi dengan terwarisinya paria dan bratawali sebagai entitas yang bisa hadir diterima di jelata”


"Dalam masa kepahitan dan kepedihan, akan banyak yang meninggikan tembok, menebalkan tembok dan membenamkan kunci kunci. Ini adalah keniscayaan, untuk memahami ilmu ilmu pengunci, layaknya ilmu kuncian yang menyimpul sanad sanad ilmu ilmu beladiri.”


"Ya seperti yang saya katakan tentang ilmu ini. Ada saatnya. Tak perlu dicari. Pada saatnya, engkau yang dicari. Tak perlu memaksa. Mati terbaik adalah mati melepas asa, bukan mati dalam penasaran... Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah kepadaku dengan hati ridha dan DiridhaiNya.”


"Ilmu kuncian adalah ilmu tertua setelah ilmu tertua:  ikhlas (keterbukaan) dan qonaah (keterpaduan). Ilmu awal yang dibawa kakek kita semua, Syaidina Adam As. Ilmu kuncian adalah ilmu yang 'diamanahkan' pada Syits As untuk mengunci kegelapan yang merasuk.”


"Banyak pengorbanan yang tak terasa saat raih ilmu. Umumnya  waktu. Tapi kakek kita Adam AS korbankan surga saat 'akhirnya' dapatkan keterbukaan dan keterpaduan. Ilmu kuncian tak korbankan waktu, tapi kemampuan  menahan dan memegang. Waktu bukan variabel untuk ilmu kuncian."


Saturday, January 15, 2022

Firaun-ism




Ada satu variabel yang memiliki pattern sama saat harus berbicara tentang paradigma penciptaan yaitu konsekwensi. Penciptaan akan memberikan konsekwensi. Pada tahap lanjut, konsekwensi akan melahirkan turunannya: pengertian dan komitmen. 

Sebuah dialog di film "Eternal" yang diucapkan oleh salah satu tokoh bernama Sprite di ujung film, terkait ilusi, setelah musuh utama  dianggap berhasil ditaklukkan/dibekukan, membuat saya teringat kembali pada cerita di kala Firaun "memilih" untuk menjadi "tuhan", setidaknya bagi rakyatnya, dan orang-orang yang ingin berhadapan dengannya.

Tak banyak cerita bagaimana seorang "manusia" dengan naluri dan nuraninya memilih untuk tak hanya berperan sebagai pencipta yang harus dihormati, tapi juga bersaing dengan pencipta matahari, bulan, dan semesta, yang sejatinya tak diketahui juga selain dari mata yang berjarak jutaan kilometer. Tak banyak cerita bagaimana Firaun secara sadar memilih peran itu, di luar nafsu berkuasanya. 

Saya sendiri sebagai pengamat perilaku manusia yang sadar, dari dulu, masih dan sangat penasaran kenapa Firaun secara sadar ingin diakui sebagai pencipta proses-proses yang seringkali hanya dijangkau mata, dan tak bisa dijangkau panca indera yang lain. 

Kesadaran tetaplah kesadaran. Kesadaran adalah momen ketika kita bisa memilih dan menggunakan seluruh sumber daya diri untuk berinteraksi dengan kesadaran luar dan kesadaran dalam . 

Manusia seringkali kecanduan akan barang-barang hasil ciptaan. Proses penciptaan dan penciptanya sendiri sering kali diabaikan karena rantai penciptaan dikamuflase menjadi rantai imaji untuk menarik pembeli. Proses mengenal penciptaan tak menjadi penting dibanding proses untuk ingin memiliki. 

Apalagi di jaman kapitalisme yang memutar roda produksi dan distribusi jauh lebih cepat dibanding roda kebutuhan, rasa ingin tahu atas proses penciptaan tak lagi dibutuhkan. Di sini saya sadar, bahwa fase Firaun memilih untuk menjadi tuhan, hampir selaras dengan fase manusia tak lagi membutuhkan mengenal tuhannya. 

Dari momen ini saya sadar bahwa rantai produksi yang harus cepat dan harus merata melahirkan saudara kembar bernama kapitalisme dan komunisme. Kembar/sama dari keinginan untuk memutar roda produksi dan distribusi agar bisa lebih cepat. Kembar identik. Pembedanya hanya pada yang satu tak peduli siapa yang bisa mengakses hasil produksinya, satu lagi  ingin seluruh proses penciptaan atau dalam konteksi ini adalah proses produksi, dilakukan bersama dan bisa dikuasai secara totalitas.

Saya pun tak heran, bagaimana sekarang komunisme dan kapitalisme seolah ada dalam satu rumah yang dikuasai oleh manusia-manusia yang ingin mengunci orang lain dalam mengetahui proses penciptaan. Manusia ini seolah anak-anak ideologis Firaun.

Pada titik ini saya cuma tersenyum, karena konsekwensinya jelas, setiap penciptaan akan mendekatkan dan mempercepat kita mengenal alam. Mempercepat kita untuk bersepakat dalam sebuah memo of understandi, dan/atau panca indera kita, dan kehidupan kita akan dipaksa untuk merasakan konsekwensinya. Alam adalah entitas pasif dinamik, yang pergerakannya tak bisa dihentikan. Memaksakan diri di satu titik dengan mengabaikan konsekwensi akan menghasilkan daging-daging yang mengandung garam tinggi. 

Daging-daging yang ditonton oleh manusia-manusia tetap ingin mengerti proses penciptaan. 

Friday, January 14, 2022

Konstelasi Tensi




Creative tension dibuat untuk mengenal batas maksimal satu sama lain. Lalu dengan mengenal satu sama lain bisa didapatkan momen shifting untuk melahirkan trust satu sama lain.

Tension bahasa gampangnya adalah "tarikan". Kalo di layangan bisa membuat batang bambu di layangan lebih mencapai top strength-nya dalam menahan angin, lalu layangannya mengonstelasikan maksimal gesture-nya dalam mencapai performa menunggangi angin.

Kalo dalam sebuah cerita, tension diperlukan untuk membalikkan dan memperjelas alur dari sebuah benang merah cerita. Karakter setiap penyusun cerita akan terlihat top performa (kesadaran)-nya pada saat terjadi tension.


Lalu karakter kebalikan dari tension adalah loose, atau ulur kalo pada permainan layangan. Di sini performa berbasis alam bawah sadar yang cenderung ditampakkan.

Performa berbasis alam bawah sadar didapat dari cycle /jam terbang yang panjang. Kalo di tasauf dikenal dengan proses riyadhoh, atau terus mengulang hingga pahami batas, atau mindfulness kalo dalam term kekinian. Proses ini juga salah satu cara dapatkan kesadaran tertinggi.


Cara lain untuk dapatkan kesadaran tertinggi (anggaplah berbasis teori kesadaran Dr. Hawkins) juga bisa dengan melatih konstelasi gesture, respon, panca indera, mimik, secara kolektif dan terus menerus dalam circle kecil. Circle kecil ini dalam fase tertentu bermetamorfosa menjadi circle of trust.


Trust itu kalo dianalogikan bisa sama dengan akumulasi energi, bisa digambarkan pembentukannya dalam sebuah momen. Trust ini cenderung sifatnya tidak berangsur, proses menujunya iya, trust-nya sendiri lebih dalam bentuk shifting moment.. moment of trust.



Energi trust ini bisa 4 sampai 5 dimensional. Memengaruhi ruang, waktu, diri dalam, diri eksterior, dan orang lain, untuk bergerak mengisi dimensi bersama. Mirip dengan "cinta", tapi cinta bukan lahir dari proses yang sifatnya bisa berdarah-darah seperti trust.


Kalo di ilmu qolbu jelasinnya lebih mudah, kalo trust lahir dari zona nafs dan aqliyah (akal), kalo cinta lahir dari zona qolbu dan ruh... sifatnya interdimensional. Tidak meruang, tapi seperti cahaya yang memancar, dan air yang ada di mata air. 


Ketika kita bicara cinta, idealnya bukan lagi cerita tentang wadah.

Saturday, July 24, 2021

Polarisasi Ternyata Obat



Berita yang cenderung bising menjelang tengah tahun 2021 ini ternyata bermula karena ada "tim kecil" lagi unjuk gigi.

Yo wis nak. Sudah terdengar. Monggo balik kandang.

Sebuah institusi yang bekerja sesuai khittah-nya akan menjadi "new organ of perspective", yang menjadi radar, memindai the blind spot of the systems, dan bermanfaat untuk penguatan akuntabilitas.

Yang terlalu berlebih itu memang tidak baik. Sebagai institusi, akuntabilitas itu bukan hanya berlaku sebagai cermin dan penyeimbang, tapi juga pemantik momen-momen penguatan pikiran yang memantik respon tubuh: Akuntabilitas adalah obat

Mungkin bagi pelaku kerja kreatif, kerja yang menjadi obat adalah kerja yang "happy", yang punya banyak ruang untuk kontemplasi. Tapi untuk ranah ranah regulasi, kerja dengan semangat akuntabilitas adalah kerja menyembuhkan. Menyembuhkan spirit of silo, dan penguatan institusi.

Ujungnya, polarisasi adalah asesmen untuk bisa bekerja lebih sistemik dan sindikatif. Objektif dan jujur saja tidak cukup. Apalagi saat harus dengan bekerja sistem di derajat "manajemen kuantum", dimana data (past), (live)streaming (sekarang), dan skenario (future) terikat satu dalam gesture.

Dalam gesture kapitalistik, "blind spot of the systems" sering dipetakan sebagai "kambing hitam". Bahkan seringkali dibentuk. Dalam gesture circular capabilities/collective societies, blind spot of the systems justru dibutuhkan sebagai pembangkit intensi, pengarahpandang.

Pernahkah melihat orang tua kita, para pensiunan, malah sakit ketika tak beraktivitas. Saya mungkin salah satu yang memiliki ayah berusia di atas 70 tahun yang masih gemar kerja, mengawasi proyek bangunan di lapangan. Di titik itulah kerja menjadi "penyembuh" bagi mereka. Kerja bukan hanya tentang mengerjakan tugas, tapi juga meringankan metabolisme, dan mempercepat sel-sel rusak untuk beregenerasi. Ya bisa saja.

Obat tak selalu pahit. Ada juga yang sakit. Persona yang pernah memperbaiki salah/retak sendi ke Pak Haji yang jago urut mungkin bisa paham.

Thursday, June 17, 2021

Titik Seluas Dunia




Berbicara tentang singularitas seharusnya tak membawa kita ke dalam suasana yang serba rumit. Sayangnya, singularitas adalah kerumitan, jika tak dijalankan dalam cycle yang wajar.

Wajar. Sebuah kata yang menurut KBBI online berarti: biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun, menurut keadaan yang ada; sebagaimana mestinya.  Wajar dalam makna KBBI ini dekat pada makna dari proses yang alami, tak disentuh manusia. Seperti anak kucing yang masih mau didekati dan diurus oleh induknya.

Kewajaran juga bisa diartikan sebagai rangkaian siklus utuh dalam sebuah sistem, tanpa terganggu oleh intensi untuk membuat cycle reinforce atau symptomatic solution yang membuat sebuah kerja sistem tidak terlihat alamiah lagi. Saya jadi ingat kata-kata Rifat Sungkar dalam sebuah vlog-nya, "Kalo bisa makan sendiri, Lu makan sendiri. Kalo lu minta disuapin, pasti ada aja lu merasa kurang. Bersyukur aja, dan berjuang aja tentang apa yang bisa kita lakukan dan apa yang kita bisa dapatkan ".. kurang lebih demikian ujarnya. 

Ada titik titik yang bisa dilakukan agar sesuatu terlihat alamiah. Yap. Saya istilahkan dengan titik. Pada perjalanannya, titik titik itu bisa saya namakan titik singularitas. Titik yang bisa juga dijadikan momen untuk bangkit berhitung, berbenah, berhubungan dengan entitas yang tak terbatas. Titik-titik mestakung. Momen saat support dan "keajaiban-keajaiban" datang ini seringkali, bahkan mungkin, selalu, seperti titik. Titik yang dinanti oleh fotografer yang menemukan angle terbaik dari targetnya. Titik yang dinanti sniper, yang rela menunggu berminggu untuk tuntaskan misinya. Momen tersebut datang dalam titik. Titik yang mengubah energi menjadi cerita. Cerita menjadi sejarah. Sejarah menjadi jalan bagi bermaknanya genetika manusia pada peradaban. Titik titik yang kini banyak disimpan oleh para tetua adat dalam bungkus cerita-cerita bijak, yang kini kembali di-trace oleh para pembesar pembesar Ivy League, untuk mengembalikan dunia yang terlanjur rusak akibat pola berpikir berujung entropi. 

Singularitas. Saya lebih senang menguraikan singularitas seperti cerita-cerita perubahan yang berlangsung dalam titik. Saat waktu dan ruang bergabung dalam niatan. Saat hadirkan masa depan dalam lingkaran. Saat menemukan pemimpin yang kita jadikan role masa depan yang mengawal kita memasuki dimensi waktu di depan langkah. Singularitas adalah awal. Namun ia tak pernah berada di belakang. Ia berada di titik kita berpijak. Singularitas membawa kita kepada niatan terkuat. Membawa kita pada Hadirat penguasa pemilik derajat Kun fa Ya Kun (Jadi, Maka Jadilah). 

Tidak pernah ada pagi tanpa harapan, sebagaimana tidak pernah ada senja tanpa renungan. Berangkat, dan pulang adalah perjalanan yang menguatkan esensi sebuah titik. Semua akan berangkat. Semua akan berpulang.