Wednesday, May 27, 2020

Kaliurang 04.30 Pagi 27/05/2006


Sejak tahun 2003 saya adalah warga Jakarta. Tapi hal itu berubah di pukul 4.30 pagi di tanggal 27 Mei 2006. Mulai saat itu saya adalah warga Jogja. Warga di pikiran dan di hati. Yogya tak akan pernah beranjak dari memori di kepala, dan seluruh perasaan di hati. Saya adalah warga Yogya dalam rasa, dan pikiran.
Ya. Satu setengah jam sebelum gempa terjadi di pukul 5.55, saya dan rombongan teman kantor baru saja tiba di Yogyakarta. Rombongan kantor tiba dan ijin tinggal di rumah atasan yang baik di kawasan Kolombo, Kaliurang. Rencananya di esok hari (di hari Minggunya), rekan sekantor kami akan menikah.

Sesaat setelah tiba sekitar pukul 4.30 pagi, semua sibuk mengurus diri, pakaian, dan sebagian siap-siap shalat subuh. Semua berlangsung cepat. Di pukul 5.30, kami semua kembali ke posisi berbaring meluruskan badan, setelah perjalanan darat selama 12 jam dari Jakarta.

Saya mengambil posisi tidur di area ruang keluarga di lantai 2. Para pria sepakat tidur di lantai 2. Dan wanita di lantai 1. Rumahnya nyaman, berplafon tinggi, dan tiangnya besar. Rumah ini adalah salah satu karya arsitek terkenal, yang saya kenal humble, asal Yogya.

Minggu-minggu di akhir Mei 2006 itu sebenarnya adalah minggu-minggu di saat Merapi sedang meninggi aktivitasnya. Bahkan beberapa rekan jurnalis dari grup media kami sudah ngepos di daerah Merapi untuk mengikuti perkembangam aktivitas Merapi.

Saat itu pukul 05.30, sejam setelah kami tiba. Semua letih, rasanya semua sudah tertidur. Saya sendiri sempat bermimpi ada hujan salju terasa menempa wajah. Ada sedikit getaran saya rasakan di lantai.

Lalu semua berguncang.

Bergemuruh.

Lalu diikuti teriakan, "Gempa!!". Ternyata hujan salju itu adalah cat putih plafon yang rontok karena guncangan. Untung bukan plafonnya yang runtuh, jika itu terjadi, mungkin mimpinya adalah asteroid jatuh.

Semua terbangun.


Rekan sebelah bangun, semua yang di lantai 2 terlihat berlari menuju tangga. Guncangannya cukup membuat langkah oleng. Tapi yang membuat rasa takut memuncak adalah suaranya. Suaranya seperti kontainer peti kemas lewat di depan mata. Keras dan bergemuruh memekakkan telinga.

Saya sempat menatap jendela, terlihat langit merah. Saya pikir Merapi sedang meletus, tapi saya lihat jam menunjukkan jam 6 kurang, berarti langit merah karena matahari baru akan muncul. "Tapi bisa jadi Merapi memang meletus," pikir saya sambil berlari oleng dan berusaha "mengembalikan nyawa" karena terasa masih setengah tertidur. Saya terus berlari dalam kekalutan, jalan berguncang menuruni tangga menuju teras. Ternyata saat tiba di teras, teman-teman lari lagi ke arah carport, karena di teras sangat bahaya. Genteng-genteng berjatuhan dari atap menimpa teras.

Saya lari sekuat tenaga di bawah teritis atap yang hanya selebar 1meter. Jika keluar sedikit saja, kepala bisa terkena hujan genteng yang masih terus berhamburan. Saya sempat melewati kolam ikan yang berukuran 1m x 4m. Airnya muncrat ke kiri dan ke kanan karena goyangan gempa.

Akhirnya saya tiba di carport. Perjalanan yang seharusnya tidak jauh, hanya 30 detik, tapi terasa mengancam dan lama. Gempa berlangsung sekitar 1 menitan. Saya melihat permukaan tanah seperti karpet bergelombang. Air kolam muncrat kiri dan kanan. Begitupun air sumur. Saya tak akan lupa pemandangan ini.

Gempa mereda. Terlihat satu rekan sedang bingung duduk di gazebo. Posisi gazebo ini ada di tengah perjalanan menuju ke carport. Dia sepertinya berlari saat tertidur. Lalu bingung apa yang terjadi. Kita teriak "jangan di situ, bahaya. Kemari!". Untungnya saat itu guncangan mulai mereda.

Saat mereda mulai ingin berkabar. Alhamdulillah, hp ada di kantong. Karena saya masi belum ganti celana disebabkan rasa kantuk setelah 12 jam menjadi navigator, menemani rekan saya yang menyetir. Saya reflek menelepon adik dan tunangan saya. Belum diangkat. Lalu saya kirim SMS.

”Saya di Yogya. Ada gempa besar". Listrik mati. Saat itu sinyal masi ada.

Lalu ada SMS masuk. Ternyata dari adik. "Wow. Hati-hati ya!". Begitu saja. Ya begitulah keluarga saya. Keluarga saya terbiasa merantau. Urusan survival dan keselamatan seolah tak lagi barang menakutkan. Hanya saja saya tau mereka sebenarnya concern.

Kami menghela nafas setelah benar-benar tak ada guncangan. Kurang lebih 10 menit kemudian ada suara gemuruh lain. Kali ini dari suara motor dan orang berlari. Suara kencang dari arah bawah (posisi saya di Kaliurang). Ada yang teriak "tsunami! Air naik!". Waduh. disitu saya lemas.

"Tenang," ucap rekan. "Mari kita cari tahu. Coba kita dengar radio di mobil,” ujarnya. Lalu kita mendengarkan radio. Dan RRI saat itu mengudara. Dari situ kami tahu tsunami yang diteriakkan warga adalah hoax. Dari RRI juga kita tahu, Kerusakan sangat parah, terutama di Bantul.

Sinyal telepon mati. Semua provider (saat itu baru tahu kalo antene bts punya batere cadangan sekitar 30 menit). Lalu atasan saya, wartawan senior, langsung inisiatif. "Oke, kita bergerak ke Bantul. Teman teman dari Kompas dan yang nge pos di Merapi pasti butuh waktu."

"Kita bantu semaksimal kita. Beli aqua dan indomi di jalan. Nanti kita bagikan," ucapnya. Tim fotografer berinisiatif siapkan alat untuk ambil dokumentasi. Kami semua berangkat. 2 mobil bergerak ke Bantul. Waktu itu sudah pukul 8.

Masi di perempatan ringroad, saya mulai melihat pemandangan memilukan. Rumah yang tinggal atap, dan orang-orang tertunduk di pinggir jalan. Sinyal telepon masih terputus. Ga ada yang biaa dilaporkan. Kami seperti mulai menahan napas. Menahan ketegangan.

Akhirnya kami memasuki Bantul. Suasana sepi. Terlihat beberapa jenazah sudah diletakkan di pelataran rumah yang hanya tampak atap. Dindingnya seolah menghilang. Kami turun. Berusaha membagikan air aqua dan menenangkan warga yang masi kalut. terdiam. bingung. Kami kalut.

Kami adalah orang media saat itu. Tapi untuk urusan hidup-mati seperti ini, terus terang begitu mengguncang. Air mata saya menetes tanpa jantung berdetak kencang. Hanya nafas terasa sesak. Langkah terasa berat. Jangan tanya apa yang kami lihat.

Tak terasa perjalanan sampai mendekat ke RS Muhamadiyah Bantul. Stok aqua dan indomi kami habis. Untung ada toko yang buka, walau penjaga tokonya pun ikut menangis dan kalut. Kami coba tenangkan sebisa kami. Sebenarnya bukan menenangkan. Lebih tepat berdoa bersama. Karena kami pun kalut

Saya dititipi camcoder oleh salah satu fotografer. Ya sudah, saya bawa saja. Lalu kami masuk ke RS Muhammadiyah Bantul yang dipenuhi korban. Ada yang terluka ringan dan ada yang berat. Saya mencoba mengambil video sepanjang jalan. Saat itu, saya tak merasa hal ganjil pada badan saya.

Saya melihat pemandangan yang ga akan saya ceritakan di sini. Pemandangan peralihan hidup-mati, kehilangan-terselamatkan, bersama-sebatangkara, terceritakan-tak terceritakan, tersembuhkan-trauma. Pengalaman 5 panca indera.

Bau amis darah menyeruak di lorong rumah sakit.

Sejam kami di Rumah sakit. Lalu kami berkumpul. Ada beberapa rekan yang masih memisahkan diri karena masih berbagi indomi blok lain sekitar Rumah sakit, seraya kumpulkan dokumentasi.

Ternyata kami adalah tim rombongan pertama media yang datang dilihat warga. Kebetulan jam menunjukkan pukul 12.00. Saat itu azan dhuhur.

Alhamdulillah sinyal mulai nyala. SMS bergerombol masuk.

SMS bernada kepanikan muncul. "De gimana", "Ya Alloh, gempanya besar. Gimana keadannya".. dll. Setidaknya di SMS itu ada sms ade saya yang terlihat cuek ternyata panik.. Dari atasan pun memberi info, tim jurnalis yang ngepos di Merapi sudah turun ke arah Bantul. Akhirnya di saat genting tersebut, tim kami menjadi tim advance untuk grup media kami, fotonya di-pool (dikumpulkan dalam satu koordinasi). Dan nanti digunakan untuk kepentingan grup.
Btw, rekaman video di camcoder yang saya pegang gagal total. Badan ternyata gemetar. Tak terasa, badan bergetar lihat kondisi yang ada di dalam rumah sakit. Saya merasa proses pengambilan gambar relatif lancar. Tapi tangan saya sangat berguncang hingga video tak bisa dilihat sama sekali.

Setelah perbekalan habis, akhirnya kami sepakat bergerak keluar Bantul. Tim dari Merapi mulai merapat. Terlihat jalan keluar Bantul mulai diportal oleh warga dan beberapa aparat untuk keamanan. Selang hitungan 5 menit, rombongan mobil media seperti Metro, Kompas, Anteve, berpapasan dengan kami, bergerak kencang masuk Bantul.

Siang itu kami kembali ke lokasi menginap kami di Kaliurang. Beristirahat lalu bikin planning setelah ini. Siang itu kami dapat kabar ada keluarga kerabat kantor yang meninggal. Di Kota Yogya dan di Klaten. Akhirnya kami membagi dua tim. Saya sendiri ikut yang di dalam Kota Yogya.

Kami melayat kerabat rekan kami di Rumah Sakit Dr. Sardjito. Kepanikan masih terlihat di sana. Walau semua sudah tertangani (korban sudah ada di kasur rawat). Tak banyak Tangis, tapi kepedihan begitu terasa. Berpelukan adalah cara mendoakan yang paling masuk akal saat itu. Kami pun kembali ke base di Kaliurang, seraya menantikan kabar dari rombongan yang berangkat ke Klaten.

Esoknya, rekan yang ke Klaten bercerita bagaimana selama perjalanan ga ada listrik. Pengungsi dan beberapa korban masi di jalan, gelap gelapan, belum dapat pertolongan dan bantuan

Akhirnya kita sadar, ini bencana besar. Butuh pertolongan besar, di saat tenaga habis, yang ditolong harus tetap ditolong tanpa jeda. Kita sadar akan peran. Tak mungkin berdiam lama di sini saat perbekalan minim. Kami bisa melakukan hal maksimal di Jakarta untuk membantu.

Lalu kami bersepakat kembali ke Jakarta, dan membuat booklet petunjuk membuat rumah anti gempa, bersama pihak terkait.


Karena bencana itu adalah sebuah bab tentang keterkaitan. Mulai dari keterkaitan perilaku, respon, teknik penyelamatan dalam kondisi darurat, teknik pengamanan, teknik pemulihan, dll, yang butuh kerja sistem. Peran kami di media tentang hunian. Maka kami ambil peran di situ.


Itulah selintas kisah Yogya di masa duka. Kisah di kota yang akan selalu menjadi safety house saya.

Saturday, April 11, 2020

Emerging Justice



Begini. Di beberapa waktu ke depan kita akan dihadapkan pada suasana yang bertempo cepat tapi butuh keputusan-keputusan tepat. Hingga akhirnya kita harus menguatkan kesadaran

Jangan lagi templatis. Yap. Karena kita dibesarkan dengan hal-hal yang kadang kita tak tahu sebabnya. Hal templatis menjauhkan kita dari kesadaran. Kesadaran pribadi, dan kesadaran bersama. Kadang saat kita membahas penyebab munculnya hal templatis, muncullah tabu. Ini wajar, saat kita mulai memasuki kesadaran bersama. Bagi saya memperkuat kesadaran bersama dalam waktu singkat bisa dikatakan sebagai salah satu cara berkeadilan, di kondisi yang serba membuat orang survive saat ini.

Kesadaran penting untuk bisa berpikir cepat. Semakin terlatih, maka semakin banyak koneksi yang bisa disurfacing, dieksplorasi. Dan banyak yang telah berlatih untuk itu.

Inilah yang menyebabkan kini saya ga percaya teori konspirasi. Teori super templatis yang mengunci kesadaran dan kodrat kita sebagai manusia bebas. Masi berat untuk menerima pernyataan saya ini? Coba saya ulang pakai narasi lain.


Saya ga percaya teori konspirasi. Saya bikin analoginya sesimpel mungkin. Ada 3 sutradara lagi audisi.

Sutradara 1: jenius. IQnya mungkin di rata rata 220. kalo bikin rencana detail. storiboard lengkap. temen dan tabungan banyak.

Sutradara 2:
IQ: n/a. Kerjaan agen beras di pasar induk, tapi dari kecil pawang hujan dan ular. Ga bisa boker di luar selain di rumah

Sutradara 3:
IQ tercatat: 160. Tapi rajin belajar. Sahabatnya banyak. HOKInya besar kalo terkait nyawanya. Tapi apes kalo urusan delegasiin kerjaan ke orang. Ga bakat milih tim. Tapi tetep HOKI.

Yang menentukan pentas di panggung adalah pemilik gedung teater. Entah cara milih sutradaranya gimana. Cuma memang seolah sutradara 1 terlihat hoki. Seolah cara dia yang benar. Padahal setiap tender manggung ya kans nya sama.

Lalu apa teori konspirasi itu? Ya ga ada. Adanya bahasa marketing saja. Semuanya tergantung pemilik gedung teater.


Dan tiap saat ada sutradara-sutradara baru muncul berusaha ikut tender manggung. Toh tendernya terbuka. Sutradara ini bisa juga disamakan dengan mazhab. Tapi tetep mazhab utama ya tetep 3 itu: mazhab elit, mazhab pasar induk, dan mazhab so-so makan bakso. Karena 3 mazhab ini hapal bener dengan karakter panggung dan kemauan pemilik gedung teater.

ini mah cuma analogi simpel. dibikin rumit juga bisa banget.
sengaja dibikin simpel buat bahan bikin meme. masa meme rumit..

Pada akhirnya kita tahu, bahwa waktu itu relatif, bahkan kita tak perlu waktu lama,untuk menjadi baik. Tentunya saat kesadaran kita di titik maksimal. Menjadi baik adalah sebuah hal termudah yang bisa dilakukan ilmu tertinggi, ilmu tanpa waktu, ilmu Kun Fa Yakun. Menjadi baik, ya kenapa tidak?

Bahkan dua gambar di atas sebenarnya adalah pengejawantahan dari 2 simbol di bawah. Tentunya diejawantahkan dengan mencoba untuk sadar penuh.
  

Thursday, April 09, 2020

Belajar Mengenal Diri dan Lingkungan


-->
Oleh: Indra Zaka Permana (a.k.a. Private! a.k.a. Zonderzulu)

Editor: Bu Rina Kusuma
(Teks tulisan untuk Buku Komunitas Graphic Recorder Indonesia)


*klik gambar untuk memperbesar



Data tahun 2010 menyebutkan penduduk Indonesia dibawah usia dua puluh tahun mencapai angka 37%. Ini artinya sepertiga dari populasi Indonesia adalah anak-anak dan remaja.

Mereka terdiri dari berbagai macam suku, terbesar adalah suku Jawa dan Sunda. Juga memeluk agama yang berbeda-beda, tinggal di ekosistem yang beraneka macam dan memiliki bahasa lokal yang beragam. Pada masa tumbuh anak dan remaja, aktivitas berkenalan, bermain dan berkelompok adalah proses penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri, membangun toleransi dan membuka wawasan untuk menerima perbedaan.

Berkenalan juga merupakan cara belajar yang nyaman dan asyik. Bahkan bisa mendapatkan hal baru secara tidak sengaja dan menguatkan energi untuk menyelesaikan masalah. Hanya saja semakin beranjak usia anak menuju remaja, ditambah dengan makin tingginya penggunaan gadget pada anak dan remaja, menyebabkan mereka berada di “menara gading”.

Mereka lebih memilih mengisolir dirinya ketimbang bersosialisasi dengan kawan sebayanya. Ditambah lagi proses berkenalan sering menjadi momok menakutkan karena bertemu situasi baru yang mereka tidak familiar. Sehingga bisa muncul rasa tertekan, malu, dan takut.

Sebagai graphic recorder, saya ingin mencari jalan bagaimana mengurai kompleksitas dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Metode yang saya lakukan adalah menggunakan visual sebagai metode berkenalan.

Tahap Simpel Berani “Kenalan”

1. Baca Pola Dasar dari setiap kerumitan yang terlihat

2. Temukan ide dari setiap pola dengan mencari ide di kuadran masa lalu (background), masa kini (environment setting) masa depan (skill yang dimiliki), dan Masa (lah) Elo! (Intrik, hal yang terjadi saat kita mentok)

3. Pilih 3-4 ide, masing masing satu dari setiap kiadran, untuk dijadikan subjek, predikat , dan objek sebuah kalimat. Buatlah kalimat. Sebuah cerita pun terbentuk, bukan? Kaget dengan cerita yang tak diduga tersusu ? Coba visualkan.

4. Bisa juga lho dilakukan dengan saling tanya jawab, membuat pola rekan lalu membuat kolaborasi cerita

Ini saya terapkan di Rumah Amalia yang diinsiasi oleh Bapak Agus Syafii di kawasan …. Rumah Amalia adalah rumah belajar untuk anak anak kurang mampu. Seringkali rasa rikuh, enggan, dan tidak percaya diri muncul saat sesi berlangsung. Namun seiring waktu anak-anak bisa menikmati permainan saat tahu cerita lebih dalam tentang alam dan rekannya. Saya juga pernah menerapkan metode ini di Green School Bali saat event Eco Festival pada awal Mei 2019 silam. Sesi tersebut dihadiri siswa grade 4 dan 5.


========

Data from 2010 stated that the population of Indonesia under the age of twenty years reached 37%. This means that one third of Indonesia's population is children and adolescents.

They consist of various kinds of tribes, the biggest are Javanese and Sundanese. Also embraced different religions, living in diverse ecosystems and having diverse local languages. During the growing up of children and adolescents, acquaintance, play and group activities are important processes for growing self-confidence, building tolerance and opening up insights to accept differences.

Getting acquainted is also a comfortable and fun way of learning. It can even get new things accidentally and strengthen energy to solve problems. It's just that as children get older into adolescence, coupled with the higher use of gadgets in children and adolescents, causing them to be in the "ivory tower".
They prefer to isolate themselves rather than socializing with peers. Plus the process of getting acquainted often becomes a frightening specter for meeting new situations that they are not familiar with. So that it can appear depressed, shy, and afraid.

As a graphic recorder, I want to find a way to unravel complexity in an easy and fun way. The method I do is use visuals as a method of getting acquainted.

Simple Stance Dare "Acquaintance"

1. Read the Basic Pattern of every complexity that is seen
2. Find ideas from each pattern by searching for ideas in the past quadrant (background), present (environment setting) future (skills possessed), and Masa (lah) Elo! (Intrigue, the thing that happens when we get stuck)
3. Choose 3-4 ideas, one from each quadrant, to be the subject, predicate and object of a sentence. Make a sentence. A story is formed, right? Shocked by the unexpected story? Try to visualize.
4. You can also do it by questioning each other, making partner patterns and then making story collaboration


I applied this at the Amalia House which was initiated by Mr. Agus Syafii in the South Tangerang area. Amalia House is a learning house for underprivileged children. Often awkwardness, reluctance, and lack of confidence appear during the session. But over time children can enjoy the game when they know deeper stories about nature and their partners. I have also applied this method at Bali's Green School during the Eco Festival event in early May 2019. The session was attended by students in grades 4 and 5.