Saturday, May 07, 2022

Mengurai Simpul



Manusia itu hebat, sekaligus juga rapuh, jika membiarkan dirinya dalam rasa tahu yang menutup ketidaktahuan.


Menyaksikan serial kisah para illustrator Disney di Disney+hotstar sungguh membuat saya merenung. Dari semua illustrator, motifnya karena ada "calling"... Ada panggilan yang menggerakkan. Beyond self. Kalo cuma skill doang, memang ga akan sampai puncak. Apalagi modal sikut. 10 tahun bertahan itu si itungannya masa tenggang.

Banyak yang mempelajari sesuatu dengan mengabaikan support system di luar dirinya. Ya, keluarga itu salah satu (dan biasanya restu ibu/istri jika sudah menikah cukup dominan). Tapi ada banyak support system lain, yang baru terlihat saat kita melakukan analisa diri dengan helicopter view.

Support system ini berada dalam blind spot kita. Perspektif "self" seringkali tidak akan mendeteksi support system ini, hingga pada satu titik biasanya terasa. Di titik 0, atau di titik di mana kita menyerahkan diri kita pada kehendak semesta, di saat kita melawan arus besar.

Jika memang suara hati kita harus melawan sesuatu yang memang bagi kita terasa "tidak manusiawi", lawan semampunya. Jika memang sudah tidak kuat, serahkan pada semesta. Ga harus menyerah. Karena semesta punya sistem yang ajib. Kekuatan diri itu fungsinya memang untuk tahu batas.

Tepatnya: jangan menyerah. Kembalikan semua urusan ke sistem semesta. Maka perlahan/ada yang cepat juga si, kita mulai rasakan support system yang bekerja dengan indah (biasanya membuat speechless).

Support system yang ada di blindspot kita bisa dipetakan dengan beberapa cara, banyak si. Biasanya memanfaatkan "entitas pemantul", berupa partner, yang bisa menjadi penjaga ritme. Karena tanpa ritme yang baik, susah untuk memetakan sesuatu, apalagi memetakan diri.

Nama metodenya bisa beragam, ada case clinic, ada yang namanya retret, ada yang namanya tadabbur, ada yang namanya tafakur... Semua itu arahnya satu: Singkronisasi. Banyak terkait dengan pace (ritme pikir, ritme nafas, ritme aktivitas) diri dan sekitar. Lebih tentang ritme. Meditasi, kontemplasi, itu tools yang beda. #imho kontemplasi, meditasi, itu akan lebih mangkus dan sangkil saat singkronisasi sudah baik. Pace sudah terpetakan. Malah meditasi, kontemplasi, itu bagi saya sudah kategorinya "senjata", tools yang bisa dipakai untuk menyimpul, mengubah dan memecah. Cenderung resiko jika pace belum bener.

Lalu apa itu mindfulness? Bagi saya itu semacam nge-route, mengurai kembali jalur, merasakan value yang ada dari setiap titik titik momen. Ya sehari cukup sehari lah. 1/3 malam/pagi #imho. Karena melelahkan dan takes time untuk recovery nafas. Karena bisa nangis-nangis juga.

Kenapa menulis tentang beginian? Karena akan datang momen dimana butuh ruang nafas kita lebih besar.... Apalagi kalo yang ruang nafasnya sudah keserang ketakutan akan pandemi dll. Akan butuh banyak momen untuk jaga pace dan singkronisasi, tepatnya demikian ;)



Wednesday, March 02, 2022

SANG PENGUNCI





Perjalanan ke timur adalah perjalanan kembali bagi para pencari ilmu tertua: keikhlasan. Perjalanan yang akan melepas semua kenangan yang membuat diri terputus dari semesta yang terlanjur percaya. 


"Banyak ilmu yang di-malamatiyah-kan (dibungkus dalam kehinaan -red) untuk mencegah ilmu itu dimanfaatkan makhluk caper perusak bumi. Hanya orang yang tau pentingnya esensi pahit yang bisa menggunakannya," - Jepri, pengamen di terminal sekitar Kota Cirebon, yang juga ahli rajah.


"Sahabat Nabi, mengistilahkan, 'Ilmu ada dalam 2 karung ujar beliau.. Karung yang pertama dibuka untuk umum. Karung satu lagi ditutup karena selain rawan fitnah'.  Memang belum (/ada) saatnya dibuka.  Kepahitan adalah satu gerbang ilmu malamatiyah.”


"Menjalani kepahitan yang sangat, selain melebarkan spektrum pikir, juga mempertajam lidah, hidung, mata, dan semua panca indera. Bangsa ini banyak diberkahi dengan terwarisinya paria dan bratawali sebagai entitas yang bisa hadir diterima di jelata”


"Dalam masa kepahitan dan kepedihan, akan banyak yang meninggikan tembok, menebalkan tembok dan membenamkan kunci kunci. Ini adalah keniscayaan, untuk memahami ilmu ilmu pengunci, layaknya ilmu kuncian yang menyimpul sanad sanad ilmu ilmu beladiri.”


"Ya seperti yang saya katakan tentang ilmu ini. Ada saatnya. Tak perlu dicari. Pada saatnya, engkau yang dicari. Tak perlu memaksa. Mati terbaik adalah mati melepas asa, bukan mati dalam penasaran... Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah kepadaku dengan hati ridha dan DiridhaiNya.”


"Ilmu kuncian adalah ilmu tertua setelah ilmu tertua:  ikhlas (keterbukaan) dan qonaah (keterpaduan). Ilmu awal yang dibawa kakek kita semua, Syaidina Adam As. Ilmu kuncian adalah ilmu yang 'diamanahkan' pada Syits As untuk mengunci kegelapan yang merasuk.”


"Banyak pengorbanan yang tak terasa saat raih ilmu. Umumnya  waktu. Tapi kakek kita Adam AS korbankan surga saat 'akhirnya' dapatkan keterbukaan dan keterpaduan. Ilmu kuncian tak korbankan waktu, tapi kemampuan  menahan dan memegang. Waktu bukan variabel untuk ilmu kuncian."


Saturday, January 15, 2022

Firaun-ism




Ada satu variabel yang memiliki pattern sama saat harus berbicara tentang paradigma penciptaan yaitu konsekwensi. Penciptaan akan memberikan konsekwensi. Pada tahap lanjut, konsekwensi akan melahirkan turunannya: pengertian dan komitmen. 

Sebuah dialog di film "Eternal" yang diucapkan oleh salah satu tokoh bernama Sprite di ujung film, terkait ilusi, setelah musuh utama  dianggap berhasil ditaklukkan/dibekukan, membuat saya teringat kembali pada cerita di kala Firaun "memilih" untuk menjadi "tuhan", setidaknya bagi rakyatnya, dan orang-orang yang ingin berhadapan dengannya.

Tak banyak cerita bagaimana seorang "manusia" dengan naluri dan nuraninya memilih untuk tak hanya berperan sebagai pencipta yang harus dihormati, tapi juga bersaing dengan pencipta matahari, bulan, dan semesta, yang sejatinya tak diketahui juga selain dari mata yang berjarak jutaan kilometer. Tak banyak cerita bagaimana Firaun secara sadar memilih peran itu, di luar nafsu berkuasanya. 

Saya sendiri sebagai pengamat perilaku manusia yang sadar, dari dulu, masih dan sangat penasaran kenapa Firaun secara sadar ingin diakui sebagai pencipta proses-proses yang seringkali hanya dijangkau mata, dan tak bisa dijangkau panca indera yang lain. 

Kesadaran tetaplah kesadaran. Kesadaran adalah momen ketika kita bisa memilih dan menggunakan seluruh sumber daya diri untuk berinteraksi dengan kesadaran luar dan kesadaran dalam . 

Manusia seringkali kecanduan akan barang-barang hasil ciptaan. Proses penciptaan dan penciptanya sendiri sering kali diabaikan karena rantai penciptaan dikamuflase menjadi rantai imaji untuk menarik pembeli. Proses mengenal penciptaan tak menjadi penting dibanding proses untuk ingin memiliki. 

Apalagi di jaman kapitalisme yang memutar roda produksi dan distribusi jauh lebih cepat dibanding roda kebutuhan, rasa ingin tahu atas proses penciptaan tak lagi dibutuhkan. Di sini saya sadar, bahwa fase Firaun memilih untuk menjadi tuhan, hampir selaras dengan fase manusia tak lagi membutuhkan mengenal tuhannya. 

Dari momen ini saya sadar bahwa rantai produksi yang harus cepat dan harus merata melahirkan saudara kembar bernama kapitalisme dan komunisme. Kembar/sama dari keinginan untuk memutar roda produksi dan distribusi agar bisa lebih cepat. Kembar identik. Pembedanya hanya pada yang satu tak peduli siapa yang bisa mengakses hasil produksinya, satu lagi  ingin seluruh proses penciptaan atau dalam konteksi ini adalah proses produksi, dilakukan bersama dan bisa dikuasai secara totalitas.

Saya pun tak heran, bagaimana sekarang komunisme dan kapitalisme seolah ada dalam satu rumah yang dikuasai oleh manusia-manusia yang ingin mengunci orang lain dalam mengetahui proses penciptaan. Manusia ini seolah anak-anak ideologis Firaun.

Pada titik ini saya cuma tersenyum, karena konsekwensinya jelas, setiap penciptaan akan mendekatkan dan mempercepat kita mengenal alam. Mempercepat kita untuk bersepakat dalam sebuah memo of understandi, dan/atau panca indera kita, dan kehidupan kita akan dipaksa untuk merasakan konsekwensinya. Alam adalah entitas pasif dinamik, yang pergerakannya tak bisa dihentikan. Memaksakan diri di satu titik dengan mengabaikan konsekwensi akan menghasilkan daging-daging yang mengandung garam tinggi. 

Daging-daging yang ditonton oleh manusia-manusia tetap ingin mengerti proses penciptaan. 

Friday, January 14, 2022

Konstelasi Tensi




Creative tension dibuat untuk mengenal batas maksimal satu sama lain. Lalu dengan mengenal satu sama lain bisa didapatkan momen shifting untuk melahirkan trust satu sama lain.

Tension bahasa gampangnya adalah "tarikan". Kalo di layangan bisa membuat batang bambu di layangan lebih mencapai top strength-nya dalam menahan angin, lalu layangannya mengonstelasikan maksimal gesture-nya dalam mencapai performa menunggangi angin.

Kalo dalam sebuah cerita, tension diperlukan untuk membalikkan dan memperjelas alur dari sebuah benang merah cerita. Karakter setiap penyusun cerita akan terlihat top performa (kesadaran)-nya pada saat terjadi tension.


Lalu karakter kebalikan dari tension adalah loose, atau ulur kalo pada permainan layangan. Di sini performa berbasis alam bawah sadar yang cenderung ditampakkan.

Performa berbasis alam bawah sadar didapat dari cycle /jam terbang yang panjang. Kalo di tasauf dikenal dengan proses riyadhoh, atau terus mengulang hingga pahami batas, atau mindfulness kalo dalam term kekinian. Proses ini juga salah satu cara dapatkan kesadaran tertinggi.


Cara lain untuk dapatkan kesadaran tertinggi (anggaplah berbasis teori kesadaran Dr. Hawkins) juga bisa dengan melatih konstelasi gesture, respon, panca indera, mimik, secara kolektif dan terus menerus dalam circle kecil. Circle kecil ini dalam fase tertentu bermetamorfosa menjadi circle of trust.


Trust itu kalo dianalogikan bisa sama dengan akumulasi energi, bisa digambarkan pembentukannya dalam sebuah momen. Trust ini cenderung sifatnya tidak berangsur, proses menujunya iya, trust-nya sendiri lebih dalam bentuk shifting moment.. moment of trust.



Energi trust ini bisa 4 sampai 5 dimensional. Memengaruhi ruang, waktu, diri dalam, diri eksterior, dan orang lain, untuk bergerak mengisi dimensi bersama. Mirip dengan "cinta", tapi cinta bukan lahir dari proses yang sifatnya bisa berdarah-darah seperti trust.


Kalo di ilmu qolbu jelasinnya lebih mudah, kalo trust lahir dari zona nafs dan aqliyah (akal), kalo cinta lahir dari zona qolbu dan ruh... sifatnya interdimensional. Tidak meruang, tapi seperti cahaya yang memancar, dan air yang ada di mata air. 


Ketika kita bicara cinta, idealnya bukan lagi cerita tentang wadah.

Saturday, July 24, 2021

Polarisasi Ternyata Obat



Berita yang cenderung bising menjelang tengah tahun 2021 ini ternyata bermula karena ada "tim kecil" lagi unjuk gigi.

Yo wis nak. Sudah terdengar. Monggo balik kandang.

Sebuah institusi yang bekerja sesuai khittah-nya akan menjadi "new organ of perspective", yang menjadi radar, memindai the blind spot of the systems, dan bermanfaat untuk penguatan akuntabilitas.

Yang terlalu berlebih itu memang tidak baik. Sebagai institusi, akuntabilitas itu bukan hanya berlaku sebagai cermin dan penyeimbang, tapi juga pemantik momen-momen penguatan pikiran yang memantik respon tubuh: Akuntabilitas adalah obat

Mungkin bagi pelaku kerja kreatif, kerja yang menjadi obat adalah kerja yang "happy", yang punya banyak ruang untuk kontemplasi. Tapi untuk ranah ranah regulasi, kerja dengan semangat akuntabilitas adalah kerja menyembuhkan. Menyembuhkan spirit of silo, dan penguatan institusi.

Ujungnya, polarisasi adalah asesmen untuk bisa bekerja lebih sistemik dan sindikatif. Objektif dan jujur saja tidak cukup. Apalagi saat harus dengan bekerja sistem di derajat "manajemen kuantum", dimana data (past), (live)streaming (sekarang), dan skenario (future) terikat satu dalam gesture.

Dalam gesture kapitalistik, "blind spot of the systems" sering dipetakan sebagai "kambing hitam". Bahkan seringkali dibentuk. Dalam gesture circular capabilities/collective societies, blind spot of the systems justru dibutuhkan sebagai pembangkit intensi, pengarahpandang.

Pernahkah melihat orang tua kita, para pensiunan, malah sakit ketika tak beraktivitas. Saya mungkin salah satu yang memiliki ayah berusia di atas 70 tahun yang masih gemar kerja, mengawasi proyek bangunan di lapangan. Di titik itulah kerja menjadi "penyembuh" bagi mereka. Kerja bukan hanya tentang mengerjakan tugas, tapi juga meringankan metabolisme, dan mempercepat sel-sel rusak untuk beregenerasi. Ya bisa saja.

Obat tak selalu pahit. Ada juga yang sakit. Persona yang pernah memperbaiki salah/retak sendi ke Pak Haji yang jago urut mungkin bisa paham.

Thursday, June 17, 2021

Titik Seluas Dunia




Berbicara tentang singularitas seharusnya tak membawa kita ke dalam suasana yang serba rumit. Sayangnya, singularitas adalah kerumitan, jika tak dijalankan dalam cycle yang wajar.

Wajar. Sebuah kata yang menurut KBBI online berarti: biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun, menurut keadaan yang ada; sebagaimana mestinya.  Wajar dalam makna KBBI ini dekat pada makna dari proses yang alami, tak disentuh manusia. Seperti anak kucing yang masih mau didekati dan diurus oleh induknya.

Kewajaran juga bisa diartikan sebagai rangkaian siklus utuh dalam sebuah sistem, tanpa terganggu oleh intensi untuk membuat cycle reinforce atau symptomatic solution yang membuat sebuah kerja sistem tidak terlihat alamiah lagi. Saya jadi ingat kata-kata Rifat Sungkar dalam sebuah vlog-nya, "Kalo bisa makan sendiri, Lu makan sendiri. Kalo lu minta disuapin, pasti ada aja lu merasa kurang. Bersyukur aja, dan berjuang aja tentang apa yang bisa kita lakukan dan apa yang kita bisa dapatkan ".. kurang lebih demikian ujarnya. 

Ada titik titik yang bisa dilakukan agar sesuatu terlihat alamiah. Yap. Saya istilahkan dengan titik. Pada perjalanannya, titik titik itu bisa saya namakan titik singularitas. Titik yang bisa juga dijadikan momen untuk bangkit berhitung, berbenah, berhubungan dengan entitas yang tak terbatas. Titik-titik mestakung. Momen saat support dan "keajaiban-keajaiban" datang ini seringkali, bahkan mungkin, selalu, seperti titik. Titik yang dinanti oleh fotografer yang menemukan angle terbaik dari targetnya. Titik yang dinanti sniper, yang rela menunggu berminggu untuk tuntaskan misinya. Momen tersebut datang dalam titik. Titik yang mengubah energi menjadi cerita. Cerita menjadi sejarah. Sejarah menjadi jalan bagi bermaknanya genetika manusia pada peradaban. Titik titik yang kini banyak disimpan oleh para tetua adat dalam bungkus cerita-cerita bijak, yang kini kembali di-trace oleh para pembesar pembesar Ivy League, untuk mengembalikan dunia yang terlanjur rusak akibat pola berpikir berujung entropi. 

Singularitas. Saya lebih senang menguraikan singularitas seperti cerita-cerita perubahan yang berlangsung dalam titik. Saat waktu dan ruang bergabung dalam niatan. Saat hadirkan masa depan dalam lingkaran. Saat menemukan pemimpin yang kita jadikan role masa depan yang mengawal kita memasuki dimensi waktu di depan langkah. Singularitas adalah awal. Namun ia tak pernah berada di belakang. Ia berada di titik kita berpijak. Singularitas membawa kita kepada niatan terkuat. Membawa kita pada Hadirat penguasa pemilik derajat Kun fa Ya Kun (Jadi, Maka Jadilah). 

Tidak pernah ada pagi tanpa harapan, sebagaimana tidak pernah ada senja tanpa renungan. Berangkat, dan pulang adalah perjalanan yang menguatkan esensi sebuah titik. Semua akan berangkat. Semua akan berpulang. 

Monday, June 14, 2021

Mengurai Kembali Algoritma yang Kadaluwarsa




Sejatinya kita terus bertumbuh. Walau mungkin bukan tambah tinggi, tapi mendekat dengan pembusukan, yang menyuburkan tanah, menumbuhkan pohon, pabrik kesegaran. 

 

Bersyukurlah masih ada sistem belief yang memengaruhi manusia. Sistem belief membuat manusia memiliki bentuk pikir dan arah melangkah. Sistem ini seringkali menjaga bahasa halusnya, atau memagari bahasa formalnya, manusia dalam menentukan pilihan dan memosisikan dirinya di masa lalu, masa kini, dan terutama masa depan.

Tak banyak yang memosisikan diri di masa depan berdasar sistem belief. Semua masih dalam tahap desire, mimpi, atau semacam pola-pola delusi yang banyak diinsepsi dogma pada level kesadaran rendah, penuh tekanan. Tidak dalam level kesadaran tertinggi. 

Rendahnya kesadaran saat kita memosisikan diri di masa depan membuat kita lebih mudah terpengaruh, dan terinsepsi pola pola, atau di masa kini sering diistilahkan algoritma, yang bisa memolakan masa depan lebih logis, lebih dialektikal, dan lebih terbuka pada semangat-semangat untuk saling terkoneksi pada potensi-potensi baru yang bisa menggerakkan dan membesarkan diri. 

Sejatinya kehadiran ide dalam keberadaan kita di situasi tertentu adalah momen. Namun seringkali kita masih dalam level ketakutan untuk merealisasikan ide tersebut menjadi sebuah inisiasi ide di ruang-ruang kolektif. Sejatinya kita lebih sering untuk mengerdilkan kesadaran kita, hingga ide itu hanya disimpan di memori kepala  yang gampang terhapus oleh ingatan yang bermomen lebih kuat, atau disimpan di dimensi tanpa batas bernama hati, hingga ide itu melebur menjadi sebuah tanda tanya di momen lain. 

Menjawab pertanyaan adalah sebuah momen untuk membesarkan, sekaligus untuk menyambungkan momen terdahulu yang mungkin terlewat, atau sengaja kita lepas karena ketakutan. Setidaknya Sang Maha Memberi peluang untuk hamba-Nya untuk selalu berproses, dan ruang penerimaan itu selalu dalam kondisi terbuka.

Ruang penerimaan berupa tersambungnya lingkar-lingkar pembelajaran, lingkar-lingkar keterhubungan niat, pikir, dan hati. Dalam lingkar tersebut, ada energi yang besar untuk membangkitkan kesadaran individu dalam tingkat tertinggi. Dalam level persembahan, dalam keikhlasan, dan membuka pintu pintu tersingkronisasinya energi-energi penghuni semesta. 

We're all the learner, we're all guardian. The rest is the path.

Friday, May 28, 2021

Menyeberang atau Berenang



Tak terlalu susah untuk menyeberang dengan berenang di sungai yang berarus lemah. Jadi susah ketika ada jembatan lebar dan bagus untuk selfie.

Susah di sini bukan berarti rumit seperti pelajaran matematika. Kesusahan seringkali terjadi karena kita membiarkan pilihan masuk ke alam bawah sadar kita, menguasai ritme nafas dan akhirnya detak jantung, karena komposisi dan ritme makan jadi berubah. 

Bersyukurlah bangsa ini memiliki kata "atau", atau bangsa yang menggunakan bahasa inggris memiliki kata or. Kata ini ditakdirkan terdengar netral. Tidak mengarah ke pilihan pertama atau ke dua. Saya selalu yakin dalam lahirnya sebuah kata, sebuah simbol pertukaran yang disepakati bersama, kelahiran "atau" ini punya latar cerita panjang tentang kesetaraan. Cerita yang juga mengandung cerita pahit kehancuran dari yang senang dengan penghancuran dan niat pembinasaan pada orang-orang yang memperjuangkan kesetaraan. 

Kesetaraan menjadi penting saat kita dalam posisi memilih. Kesetaraan juga penting dalam bertransaksi. Saya banyak mendapat tausiah oleh rekan seorang pembelajar dan juga pengacara, bahwa bisnis yang terbaik adalah yang setara. Setidaknya saya percaya, hingga saat ini, jika tidak setara maka tidak syar'i. 

Semua kesepakatan dan keputusan harus diikat di awal, terhadap situasi ke depan yang akan dihadapi. Kesetaraan bisa disimbolkan dalam timbangan. Kesetaraan bisa juga disimbolkan dalam akuntabilitas, adanya sebuah proses pencatatan yang setara dan balance, terlihat dari semua sisi. Setidaknya dari 4 sisi (mata) jika dalam standar legal, atau 6 sisi (kamera) jika mengikuti standar bagaimana mengambil video yang baik ala Hollywood. 

Tulisan ini tak akan sepanjang biasanya. Ini hanya sebuah tulisan pengantar bagi sahabat-sahabat yang akan memilih (dalam kesetaraan). Tak ada yang salah dalam keinginan memilih yang "salah". Kesalahan dalam memilih sering sekali terjadi karena ketidaksiapan dengan pilihan kita. Apapun pilihan kita, sebaiknya kita tahu terlebih dulu dimensi dampak dari pilihan-pilihan yang ada. Seringkali pilihan yang "benar" adalah yang tak sesuai dengan kondisi kita saat ini, tapi memang pilihan kita untuk hari "nanti".


*Tulisan ini dibuat sebelum manusia-manusia yang ingin kesetaraan memilih turun ke jalan untuk kebaikan hari "nanti"

Saturday, May 22, 2021

Spoiled Brain



Setidaknya ada tiga hal yang terjadi saat kita mengambil resiko: menciptakan celah, mengeringkan suasana, dan meregangkan variabel. 


Hidup ini tak pernah lepas dari usaha untuk menghilangkan ketidaksukaan, meredakan kesedihan, dan mengobati kesakitan. Usaha ini membutuhkan ruang dan waktu. Di sisi lain keberadaan ruang dan waktu mengisyaratkan kerja gravitasi. Mungkin kita hanya mengenal gravitasi dari cerita kecil di buku pelajaran, yang kadang dibelokkan ke permainan tempel menempel dan pengetahuan lain tentang medan magnet. Padahal saat kita bicara gravitasi kita akan banyak bercerita tentang permainan dimensi, manipulasi ruang, dan denyut yang ditimbulkan oleh sang waktu. 


Memahami resiko sebagai pemicu, atau sumbu, dari sebuah proses percepatan adalah sebuah fase baru dalam memahami perjalanan berkolektif. Pengambilan resiko saat sendirian seringkali tak akan menjadi ingatan yang bisa diceritakan di lain waktu. Lain halnya jika resiko tersebut diambil dalam sebuah kondisi kita tak sendiri. Kita bersama satu, dua, atau banyak orang yang memiliki tujuan sama, tapi dengan latar belakang yang berbeda. 


Itulah yang menjadi concern banyak orang saat mengumpulkan orang untuk tujuan tertentu. Mengikat visi sebuah kelompok tentunya tak bisa langsung. Butuh pengondisian (ruang dan waktu), agar tujuan bisa dipahami dalam persentase yang hampir sama. Tentunya butuh pemancing suasana, agar menimbulkan respon terkait rasa yang sama. Dan yang paling penting adalah tentunya kita membutuhkan sebuah daya serap otak yang hampir sama saat berada di kondisi yang relatif sempit, membutuhkan ketepatan dan kecepatan yang sama.


Saat mengambil resiko tentunya akan menciptakan celah, atau gap, atau masalah baru. Dalam pendekatan lain, masalah bisa diartikan dengan situasi. Situasi ini seringkali terkait dengan penciptaan momen. Sejatinya masalah /situasi tak ada yang berlangsung tanpa sengaja. Semua adalah sebuah kesengajaan. Semua bekerja dalam sistem. Hanya saja stakeholder, penentu, penyebab situasi terjadi seringkali bukanlah organ yang bisa diakses langsung dengan komunikasi yang biasa kita lakukan. Tapi setidaknya otak kita bisa disiapkan untuk merekam pola dan cerita yang berlangsung dari sebuah situasi. Otak kita bisa dikondisikan dalam posisi siap untuk menghadapi situasi yang tak dipahami sebelumnya. Istilah teknisnya, ready to unfolding the unknown.


Suasana dalam metafora bermakna dansanya para stakeholder pengatur konteks. Suasana yang kaku, yang kering, tanpa inisiatif di dalamnya tentunya bisa disebabkan oleh ketidaksiapan. Ini yang sering terjadi saat kita mengambil resiko secara mandiri, atau menggunakan wewenang otoritatif. Ketidaksiapan memang seringkali tergambar dalam sebuah bentuk gerak yang tak terpola, mimik yang tak singkron dengan konten yang sedang ditampilkan, dan penggunaan energi yang berlebih. Keringnya suasana bukan berarti "kurangnya pelembab" pada konteks tersebut. Suasana yang kering berarti juga sebuah sinyal inefisiensi yang sedang berlangsung dalam sebuah sistem. Dalam kondisi ini, otak yang siap hanya mampu merekam, tanpa mampu memindai situasi apa yang sedang terjadi. 


Mengambil resiko tentunya bisa mendekatkan kita pada entropi. Mendekatkan kita pada "kodrat" energi yang akan berubah, banyak yang mengistilahkannya dengan kekacauan. Ketidakpahaman terhadap pola yang ada seringkali tergambar sebagai kekacauan, atau tak dapat didefinisikan. Sejatinya yang terjadi adalah hilang dan membaurnya variabel sebuah sistem, seolah tak lagi terlihat awal dan ujungnya. Dalam kondisi ini, gravitasi berperan menjadi alat pengurut, awal-akhir, dan pengurut dimensi dan waktu dari sebuah peristiwa. Dalam kondisi ini, seringkali otak yang siap pun tak bisa merekam dan memindai, seringkali baru bisa memindai saat kaki mulai menjejak. 


Dari cerita di atas, bisa tergambarkan peran otak kita yang penting dalam penjabaran, pemindaian, dan perekaman. Keterbiasaan kita untuk merasakan yang sudah ada, mengulang hal yang terasa nyaman, hanya akan membuat otak menjadi tak siap dengan apapun. Termasuk dengan kenyamanan dalam kebaruan. 

Tuesday, May 18, 2021

Detak Di Sela Detik



Ritme yang semakin cepat bisa menguak banyak hal. 

Saya ingat bagaimana rasanya mengulik lagu-lagu bertempo cepat dan relatif progresif. Saya ingat saat mengulik lagu Surrounded dari Dream Theater. Tentunya Surrounded bukanlah lagu cepat di antara lagu-lagu Dream Theater yang bahkan memiliki banyak lagu bertempo dua kali lebih cepat. 

Butuh waktu hampir 3 bulan kurang lebih waktu itu, di tahun 2000, untuk saya mengulik lagu ini untuk dibawakan di sebuah acara bersama band kampus saya di masa itu.  Bulan pertama saya gunakan untuk berlatih mengikuti partitur yang ada. Sebenarnya saya tak bisa baca  partitur, tapi lebih mengikuti pola yang ada di midi. Jauh lebih simpel untuk saya. Bulan kedua saya gunakan untuk berlatih bersama dengan band dan sedikit banyak melatih dinamika permainan, karena mengikuti partitur saja tak cukup untuk mendapatkan rasa puas dalam memainkan lagu Surrounded. 

Keseruan ada di bulan ketiga. Saya harus menjadi vokalis di lagu ini dalam sebuah festival musik, karena vokalis band kami berhalangan. Lagu Surrounded memainkan beat 4/4 di hampir keseluruhan lagunya, tapi ada beberapa bagian memainkan beat 4/5 (atau 5/7 ya?)... saya lupa teknisnya, namun memori motorik saya masi mampu mengingat  lagunya hingga saat ini.  Terus terang, nyanyi sambil bermain piano lagu Surrounded itu seperti harakiri. Mana waktu itu selain festival, lagu ini saya bawakan juga dalam acara Fancy Night-nya teman-teman FSRD di  tahun 2001. Saat itu bassis dan gitaris beralmamater  FSRD, namun tetap saja itu salah satu momen paling menegangkan dari kejadian manggung saya. 

Hmmm...Saya akan melewatkan cerita di atas, saya akan menceritakan salah satu manggung tersebut di cerita lain. Saya akan mencoba menceritakan bagaimana sih ketegangan yang kita timbulkan dan kelola sendiri bisa mengubah mindset. Saya rasa tak banyak peristiwa yang bisa mengubah mindset, sebuah hal yang basic dari seorang manusia. Karena jika dianalogikan jiwa seorang itu seperti gunung es, maka perilaku akan berada di puncak gunung es dan mindset ada di dasar yang paling bawah. 

Lalu di bawahnya ada karakter dan pola respon, lalu semakin ke bawah ada ilmu terapan yang tersinkronisasi dalam tubuh. Sampai ke bagian bawah gunung es, kita akan menemukan mindset, kepercayaan, dan area trust yang terkait dengan dimensi lain di luar dimensi yang mengikat diri.

Ketegangan saat berkarya bisa jadi karena  ketidaksiapan, atau bisa jadi terlalu siap (overskill). Ketegangan sejatinya adalah sinyal, yang mengabarkan ketidaksinkronan antara satu kondisi dan kondisi lainnya. Akan selalu ada tanda, seperti detak sebelum peledak berfungsi, dan suara lain yang muncul di kepala untuk memastikan sebuah hal itu sudah sinkron atau belum. Akan ada detak di sela detik di setiap rentang perjuangan.

Setiap perjuangan  akan memiliki dan membutuhkan volume nafas yang berbeda, dan juga akan "meminjam" pikiran kita dalam porsi yang berbeda pula. Pikiran yang terpinjam inilah yang akan lama-lama terlatih untuk menerima respon baru yang lebih matang.

Lebih matang karena bisa memetakan masalah tak hanya untuk direspon, tapi juga diletakkan pada tempatnya. Masalah , atau dalam sistem diistilahkan dengan gap atau situasi, jika diletakkan dalam wadah yang tepat akan membuat detik-detik yang mewakili dimensi waktu akan mengeluarkan detaknya. 

Masalah akan jadi tanda yang membuat kita bangkit, dan terus bangkit. 


Friday, May 14, 2021

Melatih Kesabaran dengan Rasa Sakit




Sejatinya sabar itu tak ada batasnya. Kesabaran adalah sebuah perayaan. Perayaan menikmati batas-batas jiwa dan raga kita sendiri.

Seringkali kita salah mendefinisikan arti perayaan. Perayaan bukanlah tentang proses "menghabiskan" apa yang kita miliki untuk meraih state of contentment, atau mengekalkan dimensi rasa puas. Perayaan sejatinya sering mewadahi  proses membuka, mengangkat, dan membesarkan. Tujuan utamanya agar adanya aliran yang mengaitkan rasa satu orang, hingga banyak orang dalam satu waktu. 

Merayakan batas jiwa dan raga ini bisa berlaku secara sunyi, dalam sebuah proses yang mungkin hanya kita tahu, lalu pada akhirnya perlahan memasuki dimensi waktu yang di situ terdapat momen untuk saling terkait dengan orang lain yang melakukan "perayaan" yang sama. 

Coba saya urai konsepsi di atas dalam sebuah peristiwa kecil yang mungkin banyak diantara kita merasakan yang sama. Ini cerita bagaimana cara kita menyikapi jerawat. Jerawat yang muncul di waktu yang tak bisa direncanakan, dan seringkali mengambil tempat di pikiran kita saat peristiwa berjerawat berbarengan dengan momen lain yang membutuhkan penampilan kita, Misalnya saat ada wawancara di media yang membutuhkan visual wajah kita. Ya, ga semua orang punya momen untuk tampil di televisi. Tapi semua orang bisa menghadapi masalah jerawat.  Di titik inilah kita bisa mengambil garis start, untuk memulai perjalanan memahami arti perayaan pada rasa yang tak nyaman. Rasa yang tak nyaman itu bisa jadi sebuah momen perayaan. Bagaimana sebuah momen berjerawat bisa membuka peta, mengangkat tekad merawat wajah yang awalnya tak terpikirkan, dan bisa saja momen berjerawat ini menjadi sebuah momen kita untuk menghasilkan karya. Bisa jadi karya yang besar. Karya yang terhubung secara rasa. 

Namun rasanya banyak yang sudah lupa bagaimana rasanya berjerawat. Atau butuh energi agak besar untuk mengingatnya (karena tak terasa terlalu penting juga)

Sebuah proses perayaan sejatinya adalah proses berkegiatan saat kesadaran kita ada di titik tertinggi. Kesadaran untuk menampilkan diri dan karya sepenuh jiwa. Energi kesadaran  tertinggi akan saling terhubung. Bisa terhubung dalam rasa, bisa terhubung dalam wadah peristiwa yang sama, atau yang lebih holistik, bisa dalam sebuah rangkaian "mestakung" yang sama. 

Jika berjerawat adalah sebuah proses yang sering diabaikan dan sering dilupakan. Coba kita ingat lagi momen lain. Coba kita mengingat saat-saat kita merasakan luka atau momen tersakit pada tubuh (fisik kita) yang membuat kita tak bisa melupakan rasa sakit atau kita tak bisa mengontrol diri pada rasa yang terjadi di tubuh. Akan lebih mudah mengingatnya dibanding momen saat kita berjerawat. Akan lebih mudah melepaskan konteks kapan terjadinya saat kita mengingat bagaimana rasa sakit yang terasa. 

Begitulah mungkin gambaran yang paling mendekati bagaimana kita memahami kesabaran. Kesabaran itu adalah perayaan yang membutuhkan kemampuan kita untuk merasakan batas konteks (waktu dan momen), dan batas rasa. Batas konteks akan membutuhkan rangkaian momen. Batas rasa akan membutuhkan energi yang akan menguras kemampuan kita berkoneksi dan bertumbuh.   Bukankan sebuah proses yang berada dalam proses pembelajaran pasti akan membutuhkan energi yang  besar dan berulang? Itulah yang terjadi saat kita melatih meluaskan dimensi (perayaan) kesabaran kita.  Tentu ada batasnya. Namun seberapa besar batas itu bisa kita kelola. Dengan melatih mengonversi  rasa sakit yang merusak (hurt) menjadi rasa  sakit yang menyembuhkan (pain). Minimal menyembuhkan daya ingat kita. 

Perbanyak pain, kurangi hurt, dan perbesar wadah kesadaran dan merayakannya.  Tentunya akan lebih beruntung saat kita bisa merayakan dalam dimensi pembelajaran. 

Tuesday, May 11, 2021

Cara Malam dan Siang Berdansa




Salah satu cara untuk menjaga ikatan adalah dengan mengikat janji. Janji yang selalu ditepati adalah salah satu keindahan lain yang kadang kita anggap sepele, seperti saat kita melewatkan begitu saja pergantian siang menuju malam, dan kadang sedikit perenungan di saat malam menuju siang, karena kita sama-sama sering berjanji untuk mengisi hari baru.


Berjanji adalah sebuah cara untuk menciptakan momen, sekaligus mengingatnya. Mengikat cerita, mengikat rencana, mengikat gerak kita untuk menjalankan hal di luar momen yang tercipta. Janji bisa jadi adalah sebuah materi tanpa selubung, material tanpa terindera, namun bisa membuat individu terbungkus dan terpetakan dalam derajat kemakhlukan. 

Janji adalah esensi yang lepas dari wujud, fisik yang terindera, dan karakter makhluk. Malam dan siang adalah sebuah momen yang tak bisa dibantah, walau berada di dalam bunker sekalipun. Karena bagi beberapa orang, malam dan siang bisa terasa walau ada di tempat yang jauh di ideal untuk merasakan momen (yang sebenarnya) mahal di dunia ini, walau dalam batas waktu tertentu. 

Malam dan siang adalah sebuah proses yang berlangsung dengan jejaknya. Jejak perubahan yang membuat kita bisa melangkah dan kita bisa berhenti. Perubahannya membuat ruang-ruang yang terlalui oleh momen  perubahan ini menjadi lebih mengakar dalam menjejaki diri, lebih memaknai dari dua sisi, ketika di siang, dan ketika di malam. Begitulah ketika janji diamati dari dua hal yang berbeda, saat belum berjanji, dan telah berjanji, dan terus berjanji lagi. Perubahan-perubahan tentang janji yang sama akan menciptakan cerita-cerita kecil yang mengurung momen menjadi lebih cepat untuk dilupakan. 

Jika melihat perjalanan para musafir pesepeda yang pulang kampung, sudah petang, dan berada di ujung nafas karena keletihan,  padahal masih di tengah tanjakan yang mungkin baru dicapai setelah matahari tenggelam, pilihan akan muncul. Itu secara normal. Tapi bisa jadi pilihan tidak muncul, karena perubahan adalah momen yang harus dijalani, tetap berjalan tanpa harus berhenti. Berjalan saja, nikmati rasa gelap yang berpeluh, dan biarkan rasa letih itu tak lagi menguasai jasad, dan perubahan adalah bagian dari kemampuan yang bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan sesosok makhluk. Makhluk yang bisa dikatakan sebagai agen semesta. Agen mestakung. 


Waktu nya ada. Mungkin sebentar lagi saatnya tiba.  


Sunday, May 09, 2021

Menyapih Rasa Ragu




Jalan yang melebar, jalan yang lurus, jalan yang semakin nyaman, sama sekali bukan tanda bahwa kita akan sampai pada tujuan. 

Izinkan saya memulai dengan membawa narasi tentang awan. Awan yang terbentuk dari kondensasi dan berbagai macam reaksi yang berkumpul di ruang besar bernama atmosfer. Ruang yang dari sisi lain bisa kita lihat sebagai wadah. Wadah untuk berkumpul, bergerak, menyaring, melepas, dan menjalankan sistem yang terkait dengan wadah lain yang terpengaruh gravitasi, dan wadah-wadah tak kasat mata yang memiliki fungsi  kuat dalam memengaruhi kerja wadah-wadah kasat mata.

Semua kerja dalam wadah tersimbolisasi dalam awan. Awan yang memiliki bentuk, yang memiliki nama dan karakter sesuai bentuk susunan dan ketinggiannya. Dalam sisi lain bentuk awan kadang diartikan harafiah sebagai pesan yang terkait pada peristiwa tertentu. Peristiwa yang secara sistem sama sekali tak terkait dengan kerja yang membentuk awan itu sendiri. Awan adalah sebuah citra tanpa pencitraan. Menjadi pencitraan ketika kita menangkapnya sebagai pesain yang mewakili peran kita di "dunia bawah", yang terikat dengan gravitasi. 

Izinkan sekali lagi saya tetap berada di angkasa, dengan imaji saya. Karena mengajak teman untuk berimaji tentunya membutuhkan energi. 

Awan bergerak tanpa batas. Yang membatasi mungkin adalah gerak sistem termal dan sistem-sistem besar lain. Lalu ada sistem yang kadang ditemui "dunia bawah", dikatakan sebagai pawang, untuk mengatur awan sehingga memiliki batas dan geraknya. Saya tak akan membahas ini, ataupun jika saya bahas, maka akan sangat, sangat, sangat dalam kondisi yang tidak ideal. Yap. Tidak ideal. 

Bergerak bebas, meneduhi, atau memberi hujan di area yang memang waktunya hujan, adalah idealisme awan. Ideal karena bergerak dalam sebuah rangkai sistem yang besar. Sistem yang memang menjaga keberlangsungan. Menjaga agar hal-hal minor tak menjadi perusak hal-hal yang terlanjur (terpilih) untuk menjadi besar. Idealisme dalam kebesaran adalah kondisi ideal dari hal-hal yang berlangsung lama, seperti iklim. Iklim ada untuk menjaga, cuaca datang untuk mengubah.

Perubahan adalah tanda dari kehidupan. Seperti bunga yang pernah jadi putik, maka perubahan adalah sebuah idealisme yang akan terasa jika menjejak tanah. Mengikat diri pada gravitasi, mengikat diri pada sebuah arus besar tentang keterikatan kebiasaan. Kebiasaan untuk terkait, dan kebiasaan untuk beradaptasi. 

Pada akhirnya, sebagai manusia, kita hidup menjejak tanah. Jika pun kita sedang berada di dimensi tak terikat gravitasi, maka kita akan terikat oleh waktu, yang terbentuk oleh gravitasi. Kita juga akan terikat dengan ruang, yang terbentuk oleh gravitasi dan hal-hal yang menjadi elemen pembentuk jalan kita. 

Rasa ragu itu akan mengganggu  keputusan. Keputusan untuk terbang ke atas awan, dan keputusan untuk menjejak di bumi. Rasa ragu akan menjadi distorsi di ruang dan waktu. Pada ruang, keraguan akan menyisakan warna-warna malu. Pada waktu, keraguan akan menciptakan momen yang tak bisa diingat (bad sector). 

Friday, April 30, 2021

Addicted in Cursing





Menjadikan keterhubungan sebagai prioritas seringkali akan menjadi jebakan untuk kelompok masyarakat yang terbiasa dengan eksklusivitas.

Eksklusivitas pada civil society terjadi seperti busa yang muncul dari proses membersihkan diri.  Jika menelisik secara sistemik kenapa busa bisa terjadi, maka kita akan mengetahui bahwa gesekan adalah sebuah gerak re-inforce yang bisa mempercepat proses pembersihan sebuah permukaan (keras) oleh materi lunak dan cair.  Ikatan kimia yang berubah memang salah satu penyebab kenapa busa bisa terlihat. Tapi jika ditelisik lebih dalam, busa adalah sebuah proses yang tak terkait dengan proses pembersihan itu, terutama dari sisi bagaimana kotoran dari permukaan bergerak, dan arah busa bergerak, hingga selaput udara pada busa pecah.

Eksklusivitas adalah sebuah peristiwa yang terjadi dalam sebuah ikatan yang berbasis pada data, respon, dan karakteristik pola yang sama. Bisa dikatakan perilaku merasa, mengaku, memindai sesuatu adalah sebuah hal yang eksklusif itu bisa dikategorikan sebagai sebuah peristiwa. Bisa ditandai, bisa dikenang, bisa juga jadi pelajaran untuk dianalisa. 

Peristiwa bisa terjadi karena ada hal sistemik yang tersusun oleh mindset, yang mengikat variabel-variabel pikir (knowledge) menjadi sistem, atau rel berpikir, dan pola berpikir untuk  mengulang tindakan. Peristiwa akhirnya terjadi untuk bisa memproduksi impact dan value. Eksklusivitas akan memiliki impact dan value pada sebuah civil society yang bergerak secara kolektif.

Ada hal menarik saat kita terlibat dalam sebuah kelompok yang (terlibat dalam momen) mengeksklusifkan diri. Salah satu yang paling umum adalah daya amplifikasi kemampuan mengukur diri, sekitar, dan orang lain. Kemampuan mengukur ini sejatinya paralel dengan amplikasi pada kemampuan menjaga. Semakin detail variabel yang diukur, semakin kuat kemampuan menjaganya.  

Kemampuan menjaga memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif tentunya akan ada agilitas dalam mempertahankan nilai-nilai yang disepakati bersama saat eksklusivitas terbentuk. Tapi sisi negatifnya adalah kemampuan untuk beradaptasi akan menurun, sedangkan adaptasi adalah modal utama untuk berkoneksi.

Untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi, maka harus dimulai dengan kemampuan untuk memulai. Meng-engage. To starting up, we have to create ignition. Untuk memulai, haruslah ada proses yang membuat reaksi yang bisa mengubah entitas dari es ke cair, dari cair ke uap, atau bahkan ke api, simbol pemantik cahaya. 

Saat sebuah proses mengalami "pembakaran", atau terpantik, maka akan ada penolakan yang bisa mengeraskan ikatan-ikatan sebuah bentuk. Pengerasan (thightening) akan memperkuat batas-batas bentuk (dan identitas). Di sisi lain bentuk adalah wujud dari sebuah koneksi. Bentuk adalah batas. Koneksi adalah sebuah kesadaran tentang keterbatasan. Semakin banyak koneksi, maka keterbatasan adalah energi untuk bergerak. Semakin terbatas sebuah entitas, sejatinya ia akan membutuhkan lebih banyak koneksi.

==

Uraian di atas adalah sebuah gambaran bagaimana cara kita melihat sebuah struktur "gunung es" sebuah sistem yang bekerja. Melihatnya bisa dengan mendekonstruksikan gunung es tersebut menjadi pola-pola baru yang lebih mudah dikenali. Bisa juga dengan pendekatan post-dekonstruksi, yaitu mengonversi pola-pola pengenal menjadi pola-pola penguji sistem. Karena sistem dengan value yang baik adalah sistem yang bisa menguji dirinya sendiri, sehingga mudah menjadi warm entity . Entitas ini berlaku sebagai penyusun struktur sistem pada sebuah dome of thought. 


Monday, April 26, 2021

Menandai Istidraj (Pengabaian atas Ketidakmampuan)




Kesepakatan tidak ada artinya jika perbedaan tak diikat dalam sebuah benang merah bernama kesadaran.

Tak semua orang mengejar kesempurnaan diri. Banyak yang memilih untuk menemukan kesempurnaan dari apa yang dia lalui di setiap nafas, di setiap langkah dan karyanya. Tentunya memilih setelah perjalanan dan pergolakan panjang. Perjalanan yang akhirnya mengurai nafsu menjadi proses bertanya pada peran pribadi. Peran untuk semesta terkecil bernama hati.

Hati bukanlah hal yang terlalu abstrak untuk dipetakan. Seperti layaknya semesta, banyak hal teridentifikasi oleh teleskop yang diarahkan ke atas dan keluar, ternyata memiliki pola yang sama dengan ikatan dan pola-pola jaringan yang membentuk dan memfungsikan tubuh. Betapa stabilnya semesta yang besar bagi kita yang tak sedebunya alam raya ini. Pergolakan yang besar di tepian lubang hitam misalnya,  tetaplah tak menggoyah kestabilan, mungkin justru menjadi pilar yang perkuat kestabilan.  Melihat alam raya yang besar, selain membuat diri kita merasa kecil, sekaligus juga membuat kita merasa memiliki keterhubungan, seperti terhubungnya debu dengan ruang-ruang yang memiliki fungsi yang selalu dipelihara.

Hati dan rasa percaya seperti saudara kembar, yang satu berwujud fisik, yang satu lagi berwujud laku dan impact. Betapa hati itu seperti wadah yang membuat banyak perbedaan beradu dan berpadu seperti adonan, menyusut, mengembang, saling terikat untuk satu tujuan, atau minimal untuk menjadi ingatan dan rasa baru. Saat timbul rasa tidak percaya, tentunya ini adalah situasi yang akan membuat sebagian dari (wadah) hati ini tak berfungsi, dan adonan menjadi tak kalis, seperti adonan roti yang memiliki gumpalan tepung yang akhirnya jadi batu saat dipanggang dalam oven.

Saat tak percaya, maka akan ada jeda, akan ada celah, akan ada rongga seperti jurang yang akan jika harus dihubungkan, harus dengan pengorbanan, dan harus dengan mengukur. Menyambung antar jurang dengan tali, atau dengan sling besi yang bisa menahan beban, atau berjuang untuk menyambung dengan jembatan, yang bisa sangat mahal, bernama kesepakatan.  Tenaga yang besar ini tentunya adalah sebuah cara, sebuah wujud untuk memfungsikan hati dan menjadikan rasa baru menjadi sesuatu yang bisa dibagikan kepada generasi penerus, sesuatu yang bernama rasa menghargai.

Penghargaan itu seperti sebuah ritual, sebuah proses yang disadari untuk dijalankan dalam rangka mengingat kesepakatan. Menghargai bukanlah sebuah proses yang nyaman saat tak ingat dengan kesepakatan yang telah terjadi, atau tak merasakan manfaatnya, seperti saat kita sudah merasa sudah terlalu banyak yang telah dibagi. Penghargaan berkonversi menjadi "material" yang seolah harus dicapai dengan kesadaran transaksional, "jika ini maka itu, jika tak itu maka tak ini". Kesepakatan transaksional akan mengamplifikasi kemampuan mengukur, dan mendesak kemampuan percaya hanya saat berada di level rasa nyaman, bukan rasa menginspirasi. Percaya saat orang membuat senang, membuat kenyang, dan membuat tertawa. 

Hati banyak berperan dalam kesadaran, tapi jika di dalamnya banyak rasa tidak percaya, maka hati hanya akan menjadi kontainer untuk mewadahi rasa tak nyaman, yang akhirnya menekan kesadaran pada kecanduan pada nilai-nilai materialistik. Kecanduan pada nilai ukur dan nilai materialistik dalam banyak cerita seringkali melemahkan ingatan kita pada kesadaran. Kesadaran untuk menerima proses mempercayai tanpa syarat. 

Pada kondisi tak berpercaya, pertukaran nilai baru akan terjadi setelah ada  jaminan. Jaminan yang berujung pada lamanya berproses untuk mengukur dampak pribadi di semesta yang lebih luas. Dalam ranah mikro, hati  tak lagi bisa memaknai syukur (pada lahirnya rasa baru). Hati seolah jadi batu. 



Friday, April 23, 2021

Berjajar di Tepi (Seni Meminta Maaf)




Kita semua butuh celah/jeda/jarak. Bisa untuk delay dalam sistem yang menyempurnakan jalannya siklus sistem. Bisa juga dalam bentuk perbedaan, yang sengaja dibuat, atau yang terjadi alami. Celah yang muncul akibat ketidaktahuan. Celah adalah kelaziman. Perbedaan adalah sebuah ciri pembelajaran.


Tak semua harus terhubung. Banyak hal yang harus dibiarkan memiliki rongga. Rongga yang memang kadang memancing kita untuk "mengukur" dan kadang melepaskan diri dari kemampuan mengukur, mengaktifkan kemampuan lain yang kadang tak butuh kemampuan mengukur, seperti halnya mencintai dan mengikhlaskan hal yang benar-benar berbeda dengan keinginan.

Banyak hal yang bisa ditimbulkan saat kemampuan mengukur kita dimasukkan ke dalam dimensi yang sangat terukur. Ini terbukti bagaimana kita mengalami fatigue saat "terjebak" di dunia komunikasi virtual. Seringkali kita tak merasa bahwa kemampuan mengukur kita mengalami turbulence hebat di dunia virtual (yang dibangun dengan sangat terukur) sehingga kemampuan mengukur kita menyerang psikis kita dalam bentuk kebosanan, bahkan kesadaran kita  (dalam bentuk abai atas konten). 

Hidup di dalam dunia yang sangat terukur dan autopilot justru membutuhkan kemampuan untuk mengikhlaskan, menerima tanpa bertanya  tentan konstelasi dialektika virtual yang sedang terjadi. Bahkan fatigue bisa terjadi hanya dalam 20 menit pertama di kala kesadaran kita menurun di level order, menjalankan sesuatu hanya karena kewajiban, bukan di kesadaran tertinggi (englightment). 

Peristiwa fatigue di dunia dialektika virtual ini sebenarnya terjadi di saat kita berada di dunia fisik. Hanya memang kemampuan mengukur kita menutup ke-fatigue-an kita, sehingga kebenaran adalah milik para pengukur yang paling presisi. Dan itu dihidupkan seperti obor yang seringkali diestafetkan atas dasar ego sindikasi pengetahuan. Ketika melakukan sebuah sesi online, maka kemampuan mengukur tidak lagi menjadi hal yang utama. 

Kebenaran data, kepresisian data, kecepatan meraih data, bukanlah hal utama. Yang akan membuat pertemuan menjadi hidup adalah ketika kita tahu kita sedang berdialog dengan orang yang tepat, yang memiliki sanad (garis jejak trust) atas data dan knowledge yang dimiliki. Yang membuat pertemuan menjadi hidup juga adalah ketika ada "celah" dan delay yang menekan kemampuan "nafsu mengukur" kita, dan mengamplifikasi kemampuan merasa, dan mengikhlaskan diri, sehingga mampu larut dalam chemistry yang kadang memang  sering diawali oleh pola pola interaksi dan dialektika yang tak memiliki bentuk.

Masuk di dunia dialektika virtual ini seolah menempatkan diri kita di tepi jurang. Apakah jurang ini membuat takut karena tak ada info tentang ukuran jurang? Ataukah jurang ini akan membuat kita terhubung dengan sesama penghuni tepi jurang dan menjadikan tepi jurang sebagai  cerita yang membuat bahagia? Atau malah sibuk menciptakan boneka-boneka kesepakatan ala tokens dan coins yang memperkaya kita, di sela salah langkah saja bisa membuat kita jatuh ke jurang. Toh akhirnya akan terpecah sebelum kita sempat menukarnya. Terjatuh di jurang yang nyata mungkin bisa membuat kita mati. Tapi ada juga jurang yang tidak nyata, ketika kita terjatuh di "celah" yang "menyambungkan" perbedaan, karena kita tak sempat mengembangkan kemampuan lain selain mengukur. 

Akan ada masa kita akan masuk ke dunia tanpa uang. Dunia yang tak butuh lagi koin dan token untuk menyelamatkan diri. Keberadaan kita di tepi akan dijamin dengan kemampuan lain kita seperti berkoneksi, mengikhlaskan, mencintai, dan memaafkan.

Memaafkan itu bukan tentang jual beli. Memaafkan itu tentang ilmu menikmati hidup di tepi jurang


Tuesday, April 20, 2021

Memaknai Sudut



Dapat dipastikan setiap orang memiliki peristiwa yang membuat dirinya mendapatkan pelajaran untuk bisa berubah cepat. Tentunya ada juga yang tidak berubah cepat, tapi tetap harus berubah. Jika tidak, konsekwensinya akan berdampak panjang pada kesadaran. 

Setelah merekam beberapa pola dan data yang terungkap saat peristiwa aglomerasi atau terkoneksinya sebuah sistem dan area, kali ini pada organisasi yang settled di civil society, bisa dipastikan ada beberapa rongga dan celah yang bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Namun hal itu adalah hal wajar. Kesempurnaan adalah milik pencipta yang terus mencipta secara berkesinambungan. Kalo istilah kampung tetangga adalah sustain in creation. 

Seringkali sebuah perubahan adalah sebuah penciptaan, khususnya untuk perubahan yang membutuhkan ruang untuk ditanggapi, dirasakan dan dijalani. Misalnya pada kepengurusan baru sebuah organisasi bermukim warga. Pengubahan dari iuran bulanan yang tanpa denda menjadi memiliki denda bisa jadi memiliki dampak sistemik. Warga bisa terbelah menjadi banyak faksi, misalnya kelompok "sok asik" non saklek yang lama ada kini terpecah menjadi kelompok "sok asik" yang menjadi saklek karena kenyamanan ide-ide mereka yang (seolah) diterima (atau sebenarnya diterima karena di-apatis-asi warga). Kelompok ini berhadapan dengan kelompok "ga asik" yang susah diatur, atau sedikit memiliki perbedaan pandangan (yang kadang simpel seputar hak publik untuk parkir) misalnya. Kelompok-kelompok ini bisa saja menjadi kelompok baru saat denda diterapkan. Bubble menjadi terbelah menjadi bubble syar'i dan tak syar'i (karena masuk dalam ranah riba - mubah), dan bubble-bubble baru yang mungkin bisa saja tak diduga, walau sebenarnya bisa terpetakan jika dipantau dan di-scan melalui pengukuran kesadaran.

Memobilisasi individu untuk jadi bubble front berbasis ekonomi ( isu riba-non riba) jauh lebih cepat  dibanding dengan menciptakan bubble berbasis belief (benar-salah -baik - buruk). Saat berbasis ekonomi, tak butuh artefak sistem untuk menjadi "katalis", tapi saat berbasis belief, artefak sistem adalah sebuah data yang wajib ada untuk mengunci bentuk dari dialektika sebuah bubble

Yap. Seringkali kita melewati tahap mengukur kesadaran kita saat menghadapi perubahan. Kadang kita ga sadar kita yang biasa berkarya dalam bahagia (senang, damai, ikhlas) harus berubah menjadi berkarya untuk sesuatu, yang sebenarnya tak berada di level kesadaran yang biasa dijalankan. Perubahan yang mengubah kesadaran bisa jadi jebakan dan sumber permasalahan tak hanya pada level individu, tapi juga interaksi kelompok. Apalagi perubahan ini sudah menyangkut belief seseorang khususnya tentang pengambilan keuntungan yang tak sesuai kaidah kepercayaan.

Banyak perbedaan yang muncul saat memandang bagaimana orang mengambil keuntungan dari keadaan. Misalnya pada penerapan denda pada aturan-aturan di sebuah civil society. Penerapan denda dalam social engineering itu seperti sebuah operasi diferensiasi/mengonversi sistem value menjadi material. Ini sangat fundamental, jika kita tak cepat sadar untuk kembali ke kesadaran di level mencerahkan. Mengonversi nilai menjadi material pada dasarnya adalah alat untuk menurunkan kesadaran orang lain. Pada dasarnya adalah alat yang bisa memulai sebuah sistem bully pada society

Tentunya sistem ini akan disetujui oleh orang yang biasa menurunkan kesadaran orang lain sampai level ketakutan dan ketidaknyamanan (pem-bully). Tapi tentunya di sisi lain akan ada sistem yang akan menetralkan, baik dari renggangan waktu dan momen, yang membuat semua harus belajar.

Yap, dalam desain,  sudut adalah sebuah area yang akan mempertemukan dua elemen atau lebih. Pertemuan dua elemen atau lebih akan menghasilkan pembelajaran, dan usaha untuk mengembalikan keadaan menjadi terukur dan berfungsi, atau mengembalikan kesadaran ke level yang tertinggi, sebelum terkena gangguan pem-bully

Saat ada yang tersudut (by system), saatnya kembali belajar secara kolektif untuk meluruskan. Meluruskan tak selalu memulai dari awal. Tapi bisa dengan membuat keseimbangan yang memperbanyak keluarnya energi pikir.

#aingmahnaon