Pendidikan di negara yang infrastruktur digitalnya establish (with equality consent) sudah memainkan pola pola "hack the space" untuk menyampaikan pesan conscious dan subconscious secara bersamaan.
Ini baru "hack the space", belum bermain hack the society. 2 langkah lagi bangsa ini bisa: 1. Punya pemerintah yang benar-benar memaksimalkan pajak untuk rakyatnya. 2. Minimal 50% akademisi sudah bermental riset.
Di sebuah workshop, ada beberapa mentor dari ivy league di sana, kami pernah di-challenge dengan simulasi untuk dalam 30 menit "ngehack" ruang guru jadi area workshop 30 menit. Intinya, ga ada "penolakan", pure pengondisian. Teori kenalan 7 detik dalam lift sangat berperan. Lalu simulasi itu dilakukan "perpustakaan", dan "kantin". Iya. Yang paling susah perpustakaan. Karena ada "mental diam" di sana. Akhirnya penyampaian pesan banyak dengan teknik "diam" melalui literasi selain lisan. Lisan pun dieksplorasi, tapi versi bisik bisik
Tentunya memang bukan tentang konten yang disampaikan. Konten mah bisa apa aja tanpa batas. Mau ngeboost narasi ataupun anti narasi. Tapi inti dari workshop ini adalah pembentukan "collective hacking muscle". Ini sudah masuk ke area "quantum management"
"Quantum Management" itu bahasa nerd-nya lu bisa jadi apa saja untuk tujuan apa saja dengan memanfaatkan momen apa saja. Kalo bahasa gampangnya, grup lu harus bisa maen tiki taka . Kadang kiper harus ditugaskan membuat gool.
Ini pelatihan "relatif biasa" lho untuk para facilitator di sana yang mau masuk level /ambil market college student. Insha Allah Jumat ini berangkat ke Taiwan buat belajar hal senada. Tapi untuk level organisasi/perusahaan. Maksudnya relatif biasa, ya bukan lagi skill orang orang kelabu... Ini skill 5-12 tahun ke depan yang dibutuhkan pendidik dan fasilitator.
"Flash mob" adalah satu konsep "hacking the space". Model gini ga bisa dilakukan berulang. Karena ini bukan tentang spontanitas..tapi ciptakan dan menjahit momen penerimaan jadi movement. Bisa aja 2 tahun lagi ada negara di "mob" dengan cara flash mob.
