Ketika kita bergerak dalam usaha-usaha mengubah konstelasi sosial, kenarsisan dari elemen tim yang kita percaya bisa berbahaya buat sistem dan sekitarnya.
Sebuah bangsa, kelompok, akan rusak jika yang diajak membangun adalah orang orang yang terjebak di badan kecilnya. Tidak bikin badan sosial & nation body-nya bertumbuh. Ini adalah sebuah testimoni dari saksi yang melewati perjalanan bagaimana bisnis hancur karena leader narsis. Betapa bahayanya program yang mencetak pemimpin diisi oleh orang orang narsis yang tak mengamankan safespace.
Alih-alih tak besarkan dan kuatkan social body dan nation body, tapi juga akan hanya fokus pada capaian success (fake) story dan meninggalkan jauh siklus praktik baik.Hanya fokus pada "bread and butter" yang fokus pada mengatur skill "mengonsumsi dan menyimpan". Dan sama sekali ga menyentuh spektrum "exploration" yang bisa menguatkan pondasi kepemimpinan dan skill "menjaga". Akhirnya, ekosistem, atau lebih tepatnya sindikat narsis hanya meninggalkan adab dalam beriset. Riset sendiri padahal bisa menumbuhkan budaya curiosity/menggemburkan daya jelajah. Akhirnya yang tersisa adalah kenarsisan dan penurunan kualitas "berjuang" dari ekosistem.
Akhirnya masuk wadah-wadah yang hanya mengamankan diri dan memutus simpul-simpul peradaban yang suaranya tak didengar. Akhirnya jadi "punuk yang merindukan martabak". :D
Pada dasarnya, seorang pengampu harus punya kapasitas menyeimbangkan dari setiap intensi. Ada dua intensi yang bisa membuat organisasi jadi besar, namun dua intensi ini selalu bertolak belakang. Padahal dua intensi ini adalah pasangan dansa yang bisa hasilkan tarian terbaik.
Dua pasangan intensi ini adalah intensi "bread & butter", yaitu ketergerakan terkait pertumbuhan kapasitas terkait aset, hubungan yang terlihat, dan daya kompetensi. Sedangkan intensi "exploration" akan terkait pada pergerakan pendalaman, riset, dan pola dampak ritme badan besar.
Organisasi atau wadah yang tidak terlatih dengan mental model atau spektrum riset akan selalu memilih intensi "bread & butter" dan meninggalkan pihak yang berintensi "eksplorasi" yang bahkan seringkali dianggap liability.
Apa yang terjadi jika hanya fokus pada "bread and butter"? Mereka akan kehilangan kemampuan mengukur ritme. Lebih parahnya lagi, memilih mengikuti ritme pihak luar yang hanya ingin kembangkan bread dan memeras butter-nya. Hingga rata-rata perusahaan/organisasi hanya tahan < 5tahun setelah organisasi kompak tersebut mengalami pendalaman intensi. Atau, bisa saja bertahan lebih lama dengan asupan aset pihak lain dan/atau menumbuhkan entropi sistem di dalam ekosistemnya.
Entropi pada umumnya berisi ketidaknyamanan. Tapi entropi ini adalah bahasa sistem yang netral. Entropi bisa jadi tanda terjadinya dinamika konstelasi dalam sistem, yang bisa positif atau negatif. Entropi ini harus diwadahi dengan wadah-wadah transisional. Bukan transaksional.
Disinilah kewajiban leader. Yang wajib jadi pemangku wadah wadah transisional menjadi entitas transformasional. Sehingga tarian "bread and butter" vs "exploration" tak hanya jadi omongan. Tapi juga bisa membuat organisasi memiliki ritme kuat menuju perbaikan ekosistem diri dan sekitar.
Tulisan ini ditulis oleh debu yang melewati masa masa jadi kru candradimuka level marih dan level onoh selama 8 tahun terakhir. Tugasnya hanya memetakan entropi di sistem dan menuliskannya dalam nyanyian harapan.
Kata penutup. Iya. Orang narsis harus diobati. Jangan dijauhi.