Saturday, April 06, 2013

HAM vs Gotong Royong, Ngetwit tapi Ngeblog :P


  1. kata merdeka pun sebenarnya simbol dari kata: jangan pernah terjajah! seatompun!. Jika simbol mulai menjemukan, teriakan makna aslinya :)
  2. <-- :d="" lagi="" mesin="" ngeblog="" p="" pemenuh="" sebenarnya="" tapi="" timeline="" via="">
  3. Seperti pula twit ini, yang jika tak terasa fungsinya hanya jadi pemenuh timeline. DI sisi lain, tetap ada yang mencatat ;)
  4. Kalo dalam kasus Apple, adoration yang berlebihan hanya jadi pemenuh meja-meja kafe.. :P
  5. Simbolisasi seringkali jadi penyebab penyembahan (adoration) yang kurang fungsional. Hanya pemenuh timeline.
  6. Walau seringkali optimalisasi yang dilakukan o/ Steve Jobs diterjemahkan jd simbolisasi. Itu resiko. Seperti Pancasila yg kini hny simbol :P
  7. Analogi paling simpel HAM vs Gotong Royong adalah : PC vs Apple ~ customisasi VS optimalisasi. :P
  8. Soekarno (mungkin) tahu, jauh lebih penting gotong royong daripada koar-koar urusan HAM yang akhirnya berbau sampah.
  9. Pertanyaan yg dijawab boleh, dibantah boleh,diabaikan boleh: Dalam konteks politik apa bedanya isu HAM dengan Praktik Devide et Empera?
  10. Jika barat jualan hingga paket keteng seketeng-ketengnya, Indonesia (Nusantara) sebenarnya bs jualan hingga se atom2nya.
  11. Jadi, ada negara madani di galaksi andromeda, mata uangnya H, singkatan dr HAM, negara besar di dunia menjadikannya teladan. Teladan kosong.

Wednesday, December 05, 2012

Pleki, Jangan Paksa Aku Mandi Tanah Lagi



 Bona letih, badannya pegal-pegal. Dari jam delapan pagi  ia harus bermain basket di sekolah. Hari ini memang masa-masa pekan olah raga antar kelas. Tak ada pelajaran karena UAS baru saja selesai. Bona jadi salah satu andalan  yang mewakili kelas 11 untuk bermain dengan kelas-kelas lain.
Tak terasa matahari sudah begitu terik. Sayup suara azan pun mengumandang dari balik dedaunan pohon manggis yang tumbuh di depan kios rokok Pak Mur. “Minta air putih sedikit ke Pak Mur, pasti dia mengijinkan, toh sepertinya jualannya laku pagi ini, “ pikir Bona. Gratis is the best.

“Minta air, Pak Mur!”

“Ambil saja, Bon. Kalo mau pake es ambil sana di termos, Pak Mur mau ke masjid dulu ya Bon.”

“Terima kasih ya Pak. Ga ada yang nungguin Pak?”

“Biarin si Pleki aja yang nungguin. Tapi tau tuh kemana dia,” ujar Pak Mur yang bersarung kotak-kotak putih. Pak Mur ini terkenal santai, namun ingatannya panjang. Jadi tahu siapa yang ngebon sama dia + jumlahnya dengan detail.

..”hmm.. air putih  ini enak sekali,”  gumam Bona, menghibur diri.


“KAMPRET LU”

Pergi ke sana! ” terdengar suara hardikan dari rumah di balik kios. Sekelebat ada anjing berlari. Anjing itu menggigit plastik hitam kecil. Anjing itu ternyata Pleki, peliharaan Pak Mur. Tapi ekspresi Pleki begitu terlihat serius berlari menjauh. Cepat sekali.  Ritual minum air putih gratisan pun terhenti.

..”Huh, najis mughaladah,” tiba-tiba  teriakan  itu mengiringi  hardikan dan keterbirit-biritan anjing. “Anjing itu menyentuh gamis ane, ane harus cari tanah.. Ah tidak, ane harus mandi lagi saja,” ujar sosok yang tiba-tiba muncul dari balik kios rokok Pak Mur. Ternyata dia Umar, baru saja bergerak menuju masjid, untuk shalat dhuhur berjamaah.

“Hoi, Umar!,” sapa Bona. Umar, salah satu rekan Bona yang rumahnya paling dekat sekolah.  Umar memang getol sama urusan organisasi agama, tapi Bona kurang tertarik, karena sepak terjangnya dirasa terlalu agitatif.

“Salah apa tuh anjing, kenape najis?”  Bona penasaran. “Ya emang najis,brur! Tuh si Pleki sering  seliweran  di mari (di sini –red). Sampe akhirnya gamis Ane  kena deh sama hidungnya. Ribet dah urusannye.
“Urusan ape Mar, sampe ribet amat?”

“Ya ane telat ikut majelis (dhuhur berjamaah)”, keluh Umar.

“Seribet itu ye?”

“Iye” tegas Umar

Ane mandi tanah dulu ye Bon.”

Iye dah”
….
Akhirnya Bona baru bisa menghabiskan segelas air putih.


Plekiii…Plekiii. Ade ade aje lu, Plek. Nyang satu numpahin keribetan hidupnya sama elu, nyang satu ihlasin realita sama elu.

“Jadi inget cerita Ashkabul Kahfi, atau para sahabat Rasul yang berburu dengan bantuan anjing. Ribet ga ye mereka? Semesta begitu ribetkah? “

Nb:
Ini cara bersihin najis mughaladah. Ribet? Relatif. Tergantung kadar keikhlasan. Beribadah ikhlas itu bikin kita damai, dan agama pun akhirnya tak perlu dibela-bela, hanya karena kelemahan dan ketidakikhlasan kita. 

Tuesday, November 27, 2012

Menakar Prasangka



Pengemis di waktu-waktu tertentu mengisi persimpangan-persimpangan jalan. Mengisi ujung jalan dengan tiang lampu pengatur lalu-lintas, duduk sila di trotoar dan mulai mengais rejeki.

Jam kerjanya tak diketahui, mungkin 12 jam, mungkin 8 jam, atau kurang dari itu. Tapi (sekali lagi) di waktu-waktu tertentu, mereka memang konsisten mengisi ruang-ruang sudut jalanan.

Tak tahu apakah sudut jalanan adalah tempat paling 'menguntungkan'. Tak tahu juga neraca laba mereka saat  meminta-minta di posisi itu, dibandingkan harus berjalan keliling komplek, mengetuk pagar setiap gerbang rumah.

Mereka sedang berusaha, iya, berusaha meminta.

Di sisi lain, ada sosok-sosok jiwa  yang berusaha memberi, berbagi, dan menyisihkan pendapatan mereka untuk diserahkan ke 'semesta'. Mereka sadar bahwa mereka adalah milik semesta. Mereka berusaha mengaitkan diri dengan semesta dengan cara memberi, berbagi, dan menyisih.

Memberi, berbagi, dan menyisihkan harta adalah sebuah rutinitas yang seringkali menyandu. Tak terasa hampir setengah harta seringkali tersisih. Namun hal itu tak membuat jiwa dan waktu terkorupsi. Hanya mungkin ada satu hal yang seringkali terkorupsi,  ialah prasangka.

Prasangka yang ada sudut hati seringkali terusik saat ingin berbagi. Daftar pertanyaan seolah membumbung tinggi ingin mengonfirmasi apakah yang ingin kita bagi ini benar-benar untuk semesta, ataukah hanya untuk para oportunis yang bermain posisi bawah untuk 'menangkap' harta yang terlempar?..


Terlalu banyak konfirmasi, seringkali justru malah mengurai waktu. Dan hanya menjadikan kita 'pemangsa' skenario Tuhan. Terlalu sering kita merencana, sampai lupa kita malah merencana hubungan antarmanusia, yang sama sekali tak bisa dilakukan saat kita belum mengenal.

Pengemis yang (seolah) penuh derita itu memainkan perannya sebagai penakar rejeki orang, dengan tangannya yang jadi timbangan. Seringkali dengan kelemahan prasangka kita, kita jadi tak tahu siapa yang menjadi pemangsa, kita kah , atau si pengemis.

Merencana, atau bahkan hingga mengikuti sekolah merencana, membuat kita menjadi Tuhan-Tuhan kecil yang berhak menilai orang lain. Padahal kita tak pernah bisa mengetahui seseorang buang air besar seberapa cemplungan. Bahkan kita tak pernah mengetahui seseorang beberapa kali menelan ludah, karena sedang tercengang menatap karya Tuhannya.

Merencana, berprasangka, dan menakar adalah 3 hal yang biasa dilakukan barang ciptaan. Mengenal adalah pengikatnya. Mengenal adalah pintunya. Kita tak pernah bisa melakukan ketiga hal itu tanpa akhirnya melalui pintu pengenalan.

Terlalu banyak orang di luar pintu, yang harus kita kenal. Karena syarat untuk jadi manusia itu simpel, ia bisa membuka pintu. (titik)

Sunday, November 25, 2012

Mulutmu, Klaksonmu?



Pagi-pagi, saya sudah mendengar berita Munarman dipukuli gara-gara menglakson berlebihan di jalan raya. Bagi saya ini adalah berita ironi, antara rasa ingin tertawa, dan prihatin  (kebetulan rasa prihatin ini sudah mulai kebal karena dilatih oleh berita-berita kekerasan yang spartan di media lokal kita).

Rasa ingin tertawa seringkali berasal dari humor. Humor seringkali adalah rangkaian kebodohan yang dirangkai oleh kecerdasan. Saya masih selalu merasa salut untuk  para komedian sejati yang punya range pemikiran lebar. Merangkai cerita (apapun) jadi tak wajar, tapi tak juga berlebihan.

Kemacetan adalah salah satu hal yang wajar di Jakarta. Banyak hal yang dihasilkan dari macet. Esensinya sih, macet adalah resultan dr beberapa kebodohan kecil. Orang cerdas seringkali membungkusnya dalam cerita2 inspiratif di timeline social media, seperti twitter atau status facebook.  Bukan keinginan pencet klakson :P

Pencet klakson berarti memberi peringatan akan bahaya/kondisi tak ideal di sekitar. Bukan beritahu "saya adalah bahaya, saya tak ideal" :D

Esensinya, memencet klakson bertujuan untuk "mengganggu", membuat orang perhatian terhadap suatu hal. Bukan prpanjangan mulut sbnarnya :D

Jk ada 1 suara klakson, sjatinya ada 1 hal "gak beres".. jk ada 2 ya kelipatannya,dst. Bkn u/ brkomunikasi. Komunikasi mngarah ke keindahan.

Bagaimana cara meredam emosi saat diklaskon habis-habisan? Berikut tipsnya :D


  1. Anggap saja pnglakson baru dapat rejeki jadi orang kaya baru. Lagi pamerin klakson impornya
  2. Anggap ada kondisi darurat di blakang, kecipirit misalnya. Menghadapi kondisi darurat tak boleh panik. Santai saja
  3. "Mulutmu, klaksonmu". Beda orang beda mulut. Fungsi utamanya tetep untuk makan. Jika ada makanan sisa, berikan
  4. Bisa jadi balasan Tuhan krn kita dianggap berisik o/ alam. Menyatulah dengan alam, nikmati komunikasi dg semesta.
  5. Lanjutan no. 3, bisa kondisi darurat yg butuh pertolongan kita. Turun dari mobil, tnyakan, "Ada yg bisa saya bantu?"


Mungkin itu yang terjadi pada Munarman, kelima orang itu sebenarnya bantuin dia.. Wallohuallam bissawab

Saturday, June 02, 2012

Mainstreamist vs Extremist


1. "Besok tugas harus sudah dikumpulkan," ujar Mainstreamist.

2. "Matahari sudah terbenam. Keluarlah. Besok kau datang kembali, bawa pesanku, dan pesan barumu," ujar Extremist.

3. "Kamu harus saya hukum," ujar Mainstreamist.

4. "Sudahlah, kamu pulang, istirahat, dan telepon ibumu," ujar Extremist.


Kalimat 1-2 dan 3-4 sebenarnya satu arti. Tak ada yang lebih baik dari kedua percakapan di atas. Keempat percakapan berasal dari dua tokoh di dunia yang sama . Sama-sama melintasi lintas waktu yang sama, dan sama-sama mengejar cerita untuk dibawa pulang. Setiap manusia butuh cerita, minimal cerita itu hanyalah berupa kesenangan ber-BAB lancar di hari berjadwal padat.

Jadwal yang padat menggiring kita pada keterburu-buruan. Jadwal yang padat menggiring kita pada berlaku cepat. Jadwal yang padat seringkali membuat pikiran memampat, sehingga muka terlihat seperti ikan sepat. Mata melong, mulut menyayat. Jadwal yang padat juga seringkali membuat kita terlihat berusaha untuk membuat citra, bahwa kita sedang berjuang mengarungi waktu. Apakah mengarungi waktu harus diperjuangkan?

Waktu tetap bergulir. Tak perlu buru-buru menilai orang satu lebih baik dari lainnya. Tak perlu grasa-grusu memilih calon pemimpin dikala waktu sudah mepet. Keutuhan cerita tak selalu didapat dari perbuatan yang buru-buru. Seperti mencabut padi tanpa akar, dan mencoba menanamnya kembali di tempat lain.

Ada banyak cerita di balik keterpadatan. Ada banyak perilaku yang dihasilkan dari keterpadatan. Ada orang-orang yang akhirnya hidup nyaman, walaupun tak punya apa-apa, karena mereka bisa menikmati bisikan angin. Ada orang yang bisa menikmati deru mobil trailer yang melintas dua meter dihadapannya, karena mereka mendapatkan cerita,"hidup yang berat harus dilalui dengan roda yang berat dan bawaan yang banyak hingga menderu".

Tak ada yang lebih baik dari kedua percakapan di alinea-alinea awal. Tapi jelas ada perbedaan. Sosok Mainstreamist adalah orang-orang yang menikmati keterhanyutannya hingga seperti ikan yang lupa menggunakan sirip. Sosok yang kedua adalah sosok yang penuh cerita, dan tahu cara menikmati waktu yang hanya sedetik. Sosok kedua adalah sosok yang tahu, ilmu tak butuh teori, karena teori itu meng-KWkan esensi ilmu sendiri. Ilmu butuh rasa berbagi, ilmu butuh kemampuan berkenalan dan bercerita. Ilmu pun butuh ibu. Demi perbaikan peradaban, saya bertaruh pada para extremist! Semoga Jakarta kembali diisi oleh para extremist yang dicari penjajah! :)

Salam urbanistis!

Saturday, December 17, 2011

Angin Tanpa Arah

video


..............aku disini.....
...........menulis sedikiit kata-kata.....
.....didalam uraian tulisan kertas tisu lusuh......

“Wahai angin, wahai langit-langit hitam dengan awan-awan tanpa hujan…
apakah kau lihat harapan itu seperti cahaya ataukah noktah hitam?”..
“Apakah kau lihat harapan itu adalah cela bagi para pendusta, bagi para pecundang?”
“Doa para pecundang hanyalah kepalsuan bagi realita…”
“Aku ingin melangkah ..seperti layaknya langkah-langkah hewan kecil yang baru dilahirkan oleh sang induk yang sayang padanya”..

“Aku ingin langkahku dipenuhi daun-daun yang menguning karena sudah waktunya untuk musim gugur, karena sudah waktunya kami melihat harapan-harapan baru,”….
” …meskipun kami harus melewati musim dingin,…meskipun kami sudah melewati musim berbunga”….

“Daun-daun hitam dimasa lalu yang ditiupi angin-angin tanpa arah, kini tersimpan di dalam gubuk-gubuk kelam seorang pengembara tua”…

“Semuanya tinggal senyum, semuanya tinggal cerita , semuanya tinggal kenarsisan orang tua…aku berharap untuk menjadi muda dan bisa terus melangkah dengan impian-impian setinggi langit”…

Cih…

cinta

itu

hanya

untuk

pemimpi….

===========
sedikit kutipan dari "lantun angin tanpa arah".

Saturday, November 26, 2011

Anti Social Media?


Account facebook sudah punya, account twitter sudah punya, tumblr juga punya, blog juga punya (walau kurang eksis), sebenarnya masih ingin belajar social media yang lain, dan memang masih sangat banyak social media lain. Kata teman, "social media itu seperti spion pada mobil, kita bisa tau kondisi di sekeliling mobil kita, tanpa harus bertindak seperti stalker (pengintip /pengintai hidup orang)". Pendapat yang aneh, tapi struktur analoginya cukup konstruktif membuat saya bisa memosisikan diri di dunia social media yang saat ini sudah menjadi cemilan warga Jakarta.

Saya menduga, bisa jadi warga Jakarta di lima tahun terakhir adalah warga Jakarta yang "gemuk" oleh informasi, dan "berkolestrol" karena tertempeli mindset yang macam-macam karena keseringan nyemil social media. Mindset yang sebenarnya "lemak" bagi tubuh, sebenarnya sumber tenaga, tapi tak terolah dengan perbuatan nyata, menumpuk, dan bisa membuat mati. Fisik tak mati, tapi mungkin bisa jadi jiwa kita sebenarnya sudah masuk ke alam barzah.

Terbayang di otak liar ini, fungsi tubuh sepenuhnya dikontrol oleh koordinasi lima indera, tanpa hati. Otak hanya akan menjadi operator yang menjalankan mesin-mesin pengolah referensi.  Panca indera menjadi senjata ampuh yang diberikan Tuhan muntuk mendukung pencapaian kita. Panca indera membantu kita dalam mencengkeram ide-ide, dan mimpi untuk memiliki. Rasa ingin memiliki, itulah yang dihasilkan dari koordinasi kelima indera ini. Rasa untuk menguasai kapital, itulah yang seringkali menghinggapi orang-orang yang di otaknya hanya berisi program-program pencapaian.

Lalu dimanakah letaknya hati? ya posisinya tak pernah berubah, selalu menemani usus. Hati versi bangsa ini adalah hati yang sejajar dengan perut. Hati versi samawi (nasrani, islam, yahudi) adalah heart, qalbu, yang sebenarnya adalah jantung, pemompa darah. Heart is not liver. Ia diposisikan di atas perut, dan sejajar dengan paru-paru sebagai alat bernafas. Pengistilahan ini membuat pikiran saya mengembara, apakah betul bangsa Indonesia ini bangsa artifisial? Bangsa yang mudah disuguhi materi? Karena kalbu disejajarkan dengan perut?...

Kembali ke social media. Saya melihat sebuah fenomena, kaum muda Gerindra mulai "melirik" strategi untuk "memusuhi" social media. Link-nya bisa dilihat disini . Sebetulnya tidak benar-benar memusuhi, hanya memosisikan diri. Social media memang senjata ampuh untuk mencapai interkolektifitas. Sebuah cara untuk menjadi keluarga besar yang menghargai pentingnya kapitalisasi ide. Tapi tetap, individu adalah sebuah sosok yang dihidupkan oleh qalbu. Berserah diri pada referensi, hanya akan membuat kita mayat-mayat berjalan. Normatif, templatis, dan tak bersuara melawan kapitalis. Qalbu seolah hanya bisa bersuara di alam barzah, ya karena qalbu budak-budak materialis seringkali  telah mati.


Social media adalah privilege individu bebas. Tapi bukanlah tujuan. Social media hanyalah batang-batang korek yang membakar individu sejati agar menjadi dirinya sendiri, yang punya hati, yang punya jiwa, dan yang membesarkan semesta, yang membelenggu ego-ego kesombongan atom-atom jagad raya. Kesombongan yang seharusnya tak tampak dari individu yang merdeka. Merdeka untuk berbagi, dan berhati untuk memiliki.

Monday, November 07, 2011

Sunday, October 23, 2011

Berkarya Tanpa Tersandera?


Memulai karya baru seringkali adalah pekerjaan yang maha berat. Berat karena memang benar-benar harus baru, seperti tanpa keterkaitan dengan karya-karya sebelumnya. Karya baru itu pun berat karena seolah kita harus terlepas dari keterjebakan sentuhan diri kita pada masa lalu.

Hal ini terjadi pada saya dahulu, dan terjadi juga dengan rekan saya, sesama makhluk pembenci hal-hal normatif. Tumben rasanya saya mendapatkan waktu untuk mendengarkan apresiasi darinya, tentang posisi dirinya saat ini. Kata lain "curhat" yang keduluan populer. Istilah curhat agak tak saya sukai, karena seringkali kata curhat menjebak kita untuk subjektif memandang orang.

Ia memulai sesi apresiasi tentang dirinya, dan saya tinggal menikmati. Ia mengapresiasi dirinya yang berada dalam lembah kejenuhan, setelah berkarya hampir setahun di Jakarta. Ia takut dirinya akan memproduksi karya yang "begitu-begitu" saja, gampang tertebak, membludak ke dalam imaji dan gerbang niatnya. "Saya stuck, apa yang harus saya perbuat?" sebuah apresiasi yang diakhiri tanda tanya. Ia bertanya pada saya, yang terus terang saat itu terhenyak karena belum siap menjawab.

Saya berusaha tersenyum. Tersenyum adalah bentuk jawaban yang biasa saya pertama kali lakukan sebelum berkata. Senyuman bisa berjuta makna, layaknya lukisan Monalisa. Satu hal yang pasti adalah senyuman bisa jadi obat, mungkin untuk dia, dan yang pasti untuk saya. Butuh kurang lebih 10 detik untuk saya mencari kata-kata jawaban yang tepat. Karena urusan niat berkarya adalah urusan yang sangat subjektif, namun berdampak pada objective (tujuan) hidup kita.

"Coba Lu pilah lagi urusan lu, mana yang rutin, mana yang benar-benar berkarya," ujar saya. Rutinitas seringkali meninggalkan kesan seperti kita sedang mengisi check list daftar pekerjaan yang nyata-nyata berulang. Sedangkan karya seringkali membutuhkan energi untuk mencari "wangsit" atau petunjuk dari alam, menghaluskannya dalam coretan ide, mengolahnya dalam sistem yang bertumbuh, dan membungkusnya dengan kesan dan referensi terakhir kita.  Berkarya itu seperti menjadikan kita seolah Tuhan, sebuah aktivitas yang agak arogan untuk skala manusia. Namun dengan karyalah kita bisa menunjukkan bahwa kita bukanlah Tuhan. Kita hanya 0/1 nya Tuhan. Rasa lelah dan kehilangan orientasi akan muncul saat kita selesai menyelesaikan sebuah "karya",adalah bukti yang membuktikan bahwa manusia punya batasan. Batasan karya, sesuatu yang sangat manusiawi.

Apa yang dilakukan rekan desainer lainnya saya ceritakan sebagai referensi. Rekan desainer tersebut punya ritual rutin saat telah menyelesaikan sebuah proyek bangunan. Ia akan serius untuk berlibur dan seraya menyerap simbol-simbol alam yang baru. Rekan yang saya ceritakan itu menginvestasikan 50%waktu bekerjanya untuk mengisi ulang energi badannya yang tersalur ke karya terakhirnya. Tak heran setiap karyanya seolah memiliki aura, tak datar seperti wajah pengantin yang tak ikhlas dikawin.

"Lu harus cari waktu untuk kembali ke alam, kembali ke haribaan Ilahi dan mendapatkan simbol dan energi baru," ujar saya berkata sambil terpejam. Terpejam karena pembicaraan ini terjadi setelah saya belum tidur selama 36jam. Selain itu, untuk urusan memberi petuah, saya berusaha menghilangkan peran indera saya. Saya berusaha menggali suara-suara berisik di dalam tubuh, yang seringkali berkata. Suara tubuh yang ternyata adalah suara hati.

"Gue tau lu baru saja menyelesaikan beberapa karya idealis secara beruntun. Ga heran lah kalo kejadian "kopong ide" ini terjadi. Kerja itu rutinitas, karya itu penciptaan entitas. Jangan meremehkan badan kita saat berkarya," ucapan saya meluncur deras seperti orang sok tahu. Tapi saya yakin dengan ucapan saya itu. Saya yakin dengan kesoktahuan saya saat berhasil mendengar suara hati.

"Oke, saya akan cari waktu," ujarnya. Kami pun melanjutkan dengan cerita-cerita hantu. Sebuah cara tersingkat untuk mengurangi keterkaitan dengan ruang dan waktu. Sebuah cara yang singkat juga untuk menghargai daging yang telah membantu ruh ini melewati hari.*








*Teringat dengan lagu Sujiwo Tejo ~Cinta tanpa Tanda, dan ucapannya di twitter: ""Bunuh" panca inderamu, dan rasakan cinta tanpa tanda. Selamat mengarungi cinta yang tanpa tanda".

Thursday, May 26, 2011

Apakah Kita Masih Butuh Politik?



Di antara cerita perang yang terjadi di hutan-hutan, perkotaan, air, darat, gunung, dan lembah, bangsa Indonesia ternyata terlahir  melalui perdebatan, melalui diskusi, dan olah pikir. Tak ada aturan dalam debat saat itu, hanya rasa ingin mendapatkan makna baru dan pelepasan cita-citalah yang membuat tokoh bangsa mengumpulkan semua ego mereka yang berbeda-beda. Kesepakatan menjadi orientasi dalam menyelesaikan masalah bangsa.

Kesepakatan itu berjudul undang-undang dasar, dan mungkin masih banyak kekurangannya. Seperti payung kecil, kadang tak cukup menaungi warganegara yang ingin mendapatkan kenyamanan. yak, kenyamanan, bukan kemerdekaan. Bagi orang yang mencari merdeka, memiliki payung saja sudah menjadi anugerah. Memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi hujan adalah sebuah amanah. Kenyamanan adalah candu bagi orang yang ingin dimanjakan mimpi.

Mulai dari Undang-Undang, sistem  dan organisasi pun tumbuh, tumbuh seperti syaraf otak yang saling tersambung, dan menjadi mesin fikir dalam menyelesaikan masalah kebangsaan. Peraturan tumbuh seperti jalan-jalan raya kota yang saling menghubungkan. Besar, kecil, panjang, lebar, sempit, luas, seperti itulah analoginya.

Setiap orang selayaknya bisa menggunakan jalan itu. Tak haruslah kita menggunakan kendaraan jika tak terikat dengan timeline waktu. Cukup berjalan saja, kita bisa sampai di tujuan, kita bisa mendapatkan rasa kemerdekaan dan keadilan.

Apa yang terjadi di pusat ibukota ini sungguh seperti komedi. Tak usahlah dianggap tragedi, jika kita masih memiliki solusi dan bayangan indah untuk membuat dunia jadi lebih indah. Mesin-mesin politik mengisi jalan-jalan ibukota hingga ruas terkecil. Itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah pengemudinya tak tau cara menggunakan mobil. pejalan kaki tak ada lagi, karena pasti tergilas. Mobil besar, mobil kecil, saling berebutan ingin menikmati jalan tanpa gangguan, agar bisa sampai tujuan.

Sebenarnya apa sih arti tujuan, jika akhirnya kita harus mengorbankan jalan yang saling terhubung itu jadi tanpa arah, dan membuat frustasi. Sebenarnya apa sih arti tujuan, jika kita tak bisa berbagi. Nihil... dan memiliki kemampuan terbang, kini menjadi mimpi para politisi-politisi yang tak bisa berkendara...

Friday, February 11, 2011

Haruskah Kita Memahami Jakarta?




Kemarin saya bertemu dengan teman saya yang sedang bingung. Bingung antara bahagia atau khawatir. Anaknya kini lebih percaya sponge bob untuk dijadikan ibunya. Ibunya seorang pekerja media di ibukota, tinggal di "samping" Jakarta, dan mungkin melihat anaknya adalah sebuah pertunjukkan terindah di setiap harinya. Namun saya rasa pertunjukkan yang dibawakan oleh sang Anak di hari itu membuat sang ibu berkendara dengan keterkejutan...

Ada variabel berpikir menarik yang saya dapatkan dari anak tercinta rekan saya ini. Bahwa untuk merasakan dan memahami proses hidup, seringkali kita ga butuh itu namanya pengajaran. Ide spongebob menjadi ibu bagai kembang api di tengah kegelapan. Keliaran indera dan ekplosifnya cara anak mengembangkan daya paham bagaikan mata air inspirasi kita..

Ruang, dengan segala karakteristiknya, mewadahi raga dan barang-barang milik kita. Begitu pula dengan pikiran, dengan segala variabel yang dipikirkannya, menjadi pencetus gerakan kita. Namun, hal itu menjadi tak berbentuk, tak bisa dipahami, saat kita memainkan runutan (timeline) waktunya secara acak. Semua tatanan ruang, dan tatanan pikir jadi tak ada artinya...

Pemahaman seperti itulah yang saya pahami dulu... Tapi cerita rekan saya ini justru membuyarkan pemahaman tersebut. Anak bisa memahami sesuatu secara utuh, tanpa harus melalui proses runut yang biasa kita lakukan saat belajar.

Mentransformasi pikirannya menjadi simbol yang ada di kamar. Itulah kemampuan lebih sang anak. Sang Anak begitu inspiratif untuk membuat pikirannya menjadi simpel, namun tetap nyaman dipandang. Anak melihat pikirannya bertansformasi menjadi sosok-sosok utama yang mengisi cerita hariannya. Atau bisa juga simplifikasi pemikirannya terlihat seperti bibit pohon. Bibit ini bisa jadi apa saja saat ia membayangkan proses tumbuh besar sang pohon. Inilah yang membedakan anak kecil dan orang dewasa. Orang dewasa seringkali terpancing untuk menggeneralisir sebuah fenomena agar mudah dihapal dan mudah diarahkan.

Menggeneralisir adalah sebuah fenomena yang membuat sebuah fenomena "seolah" tertangkap dalam satu simbol. fenomena terlihat seperti pohon besar yang terserabut dari tempatnya, dan disimpan dalam memori. Akar pohon yang begitu kompleks menyebar di tanah tak menjadi kepeduliannya. Menggeneralisir fenomena seringkali menimbulkan persoalan. Karena simbol tidak dijelaskan lagi secara utuh.

Lalu apa hubungannya dengan judul blog ini?... ya karena terlalu banyak fenomena yang digeneralisir dalam simbol-simbol. Dan terlalu banyak persoalan yang ditimbulkan oleh simbol-simbol akibat generalisasi ini. Ini nih contohnya:... Ormas dengan simbol agama, pekerja sehat dengan simbol bike to work, Macet jakarta dengan simbol PaMer PaHa nya... Simbol-simbol ini justru mematikan rasa kita pada keterkaitan waktu. Ingin lari rasanya dari masalah ormas agama dengan isi orang-orang penuh nafsu... Boro-boro ingin mengembangkan cerita yang indah dari simbol-simbol yang ada. Justru hanya ada cerita sinis dan pencarian kambing hitam..

Saya jadi bahagia saat mencoba membuat simplifikasi Jakarta. Yak, saya bayangkan Jakarta seperti paul gurita. Gurita yang memiliki banyak kaki (kemampuan), dan bisa meramal (kelebihan) untuk kemenangan kompetisi-kompetisi yang akan terjadi.. Namun betapa tak solutifnya otak saya saat harus menggeneralisir Jakarta dengan simbol benang kusut... hehehe

Simplify..yes.. Generalize.. no

Sunday, January 30, 2011

Hibernasi...ah..




"Realita seolah tak berarti saat mimpi tak sanggup untuk hadir".... Nnngg...itu bahasa galau yang keluar dari rekan saya. Ia telah bergadang kurang lebih empat hari lamanya. Nggak kebayang bisa seperti itu.. Tapi itulah kenyataan yang saya dapatkan.

Menurut saya, lelah juga rasanya kalo kita selalu hidup dan memanfaatkan panca indera tanpa waktu istirahat. Sepertinya diam itu perlu,karena saat diam kita bisa merasakan mimpi.

Mungkin inilah permainan yang diajarkan Tuhan, nama lengkapnya permainan dinamika hidup. Tuhan memberikan keseimbangan dari semua aspek hidup. Tuhan juga seringkali hadir pada saat kita merasa seimbang. begitu banyak inspirasi yang hadir saat kita berada dalam posisi seimbang. Setiap perbedaan seolah meberikan makna,dan itu adalah inspirasi.

Saya pernah juga mencoba untuk bergadang lebih dari dua hari. Suer, bukan puas dengan hasil kerja yang didapatkan. Kelelahannya menghilangkan interest saya pada apa yang saya lakukan. Dulu, sebelum kerja di media saya adalah seorang creative di event organizer. Namanya terdengar keren, tapi saya membayangkannya seperti kerjaan yang benar benar melelahkan otak. Kerja saya adalah mempersiapkian proposal, menyiapkan publikasi,dan desain panggung untuk event band dan tour band. 3inone. Boro-boro menikmati band yang manggung.. kerja saya adalah mempersiapkan panggung di malam hingga pagi hari, lalu siangnya tidur karena kelelahan, dan bangun malam saat konser usai, pengen nonton, tapi badan tak bisa dipaksa kompromi.Begitu terus selama hampir setahun.

Hmm, bayangkan saja otak yang diberi handuk karena terlalu banyak cairan otak yang terpakai untuk dijadikan energi berpikir.... Lebay terdengarnya, tapi itulah pelajaran berharga yang saking mahalnya ga akan saya beli lagi... :D

Betapa istirahat itu mahal, saat kita melewati proses yang wajar. Bagi saya, istirahat adalah investasi untuk tubuh, inspirasi untuk mimpi, dan tentunya menurunkan kerja otak yang fluktuatif.

Monday, January 24, 2011

Melintasi Jakarta Tanpa Peluh


Akhirnya...

Hampir empat bulan saya membisu untuk menuliskan kata-kata di udara Jakarta... oh.. saya sudah tidak di jakarta. Terhitung 5 Desember 2010 kemarin, saya telah pindah ke kawasan Japos,Tangerang, surganya para pekerja sub urban ibukota.

Kelahiran anak membuat saya bahagia, namun itu adalah kebahagiaan yang tak bisa terbungkus dalam kata-kata. Terlalu banyak bahagia itu, terlalu banyak judul yang harus saya buat hingga saya merasa, menuliskan kebahagiaan tentang anak bisa-bisa jadi bahagia yang basa basi.

Seperti kata orang galau di halte enam bulan yang lalu, "cinta itu perbuatan, pengorbanan, sama sekali bukan kata-kata"... Itulah yang membuat saya berada dalam dunia kontradiksi untuk curhat dalam kata-kata cinta, empat bulan ini ..

Bahagia, kesal dengan dinamika politik kantor, membuat saya justru fokus memikirkan hal-hal yang bersifat formal. Tugas ya dikerjakan, rencana ya dijalankan. Empat bulan saya tak banyak melakukan hal-hal yang nakal. Nakal, diluar alur perputaran otak. Menulis di blog ini adalah sebuah hal yang nakal...Huh, terasa bukan di tulisan saya ini, empat bulan tak nge-blog membuat tulisan begitu formal, tidak nakal...


Alhamdulillah..

Akhirnya cerita baru pun tertulis...
Kenakalan itu bisa jadi hal yang formal...ternyata..

Tuhan mengirimkan "kenakalan" itu pada saya tadi pagi, dalam bentuk kisah nyata sang penjual bubur.

Istri saya yang supel, menggemari bubur ayam yang dijual di gerobak motor. Motor bergerobak tepatnya. Rasanya enak, ada tongcai (wortel kering yang asin) ala makanan Cina. Enak bukan karena bubur ayam yang bergerobak standar, yang dijual sebelum tukang bubur bermotor ini datang, rasanya seperti air payau. Tapi karena memang bumbunya meresap.

Bubur meresap membutuhkan waktu. rasanya yang enak menimbulkan rasa ingin tahu. Istri saya pun bertanya, "Mas, tinggal di mana, kok bisa siang terus jualannya?," ... "Saya dari Tambun, Mbak"... "Tambun? Bekasi? Jauh tuh Mas"... "Ya mau gimana lagi Mbak, namanya cari uang"... pembicaraan terhenti, karena istri saya masih takjub membayangkan jarak jauhnya...

Perjalanan sang tukang bubur, dari Tambun ke Tangerang adalah sebuah perjalanan yang mungkin melelahkan baginya. Namun peluhnya sudah dibungkus dalam kata-kata, "ya mu gimana lagi mbak, namanya cari uang." Peluhnya adalah sebuah kata-kata kepasrahan.

Saya tak tahu pasti, keterkaitan rasa yang enak itu dengan perjalanan jauhnya. Saya tak tahu pasti, bisa-bisanya kota Jakarta tak lagi jadi target tempat berjual bubur baginya. Ia melintasi Jakarta. Tapi ia tak mencari Jakarta... jakarta kelewatan baginya... Jakarta hanyalah sebuah lintasan waktu.. yang mungkin membantu menggurihkan ramuan buburnya...

Saturday, September 18, 2010

Kata-kata cinta dari #sekoci (sekedar konsultasi cinta) grup @ twitter :D



#sekoci... Merasakan ada dan tiada.itulah cinta...nafsu hanya membawa kepada ada yang tiada

#sekoci... Senyum itu seperti mesin waktu..

#sekoci... Mncintai ssuatu yg tdk mencintai kita, hnya mnghasilkan mimpi buruk.. Literally nightmare, tp bisa mmbuka ruang doa

#sekoci... Jika setiap hela nafas berisi syukur, itulah kebahagiaan...

#sekoci... Ktdkpedulian spt padang pasir.. Apa yg hrs ditakutkan oleh kafilah.. Ketika punya bekal & tujuan.. Tak prlu brhrp bnyk pada oase..

#sekoci... Betapa cinta itu seperti rasa syukur yang mengalir dalam darah..

#sekoci... Bersyukurlah utk yg msh mmiliki cinta.. Krn cinta adlh tugas pertama dr Tuhan yg dilakukan hati..

#sekoci... Walaupun karakter desa asal tlh brubah jd mterialis,modernis&templatis.. Ada satu yg tdk brubah... Desa asal sll jd penguat cita2

#sekoci... Lebaran kini identik dg pulang kampung...kembali mengenali asal, adalah salah satu cara mudah untuk mensyukuri nikmat cinta :)

#sekoci... Masalah membuat kita lepas dr jebakan template, & hebatnya, cinta itu tak ada templatenya... cinta itu katalis solusi

#sekoci... Ruang hati tak berjendela membuat kita merasa gelap, kerdil dan lelah.. Jendela itu ada, ialah harapan yg bisa dibuka dg kemauan

#sekoci... Bermasalah dengan cinta? Lihatlah cinta sbg kumpulan peluang.. Karena peluang mncerahkan hati dan mata

#sekoci... Love is absurd, when u make decision while stuck and have no direction..

#sekoci... Faith is wine.. Heart is glass.. And you're the taste..

#sekoci... Cinta tak butuh niat.. Tapi bisa jadi niat.. :)

#sekoci... Butuh benci utk rasakan cinta.. Temukan benci pd tmpt yg tak bs dilangkahi..yaitu masalalu..benci jd pnyesalan yg memupuk cinta..

#sekoci... dengan cinta.. tujuan terlihat seperti titik cahaya di ujung trowongan ikhtiar... takkan ia terlihat spt dasar sumur yang dlm..

#sekoci... Maha Suci Engkau yang mencipta Subuh.. Saat ruh dan badan terasa berkompromi siapkan harinya...

#sekoci... Rindu itu madu.. Jarak itu candu

#sekoci...awalnya adalah wadah yg dibuat utk mendaptkan keleluasaan berimajinasi.. namun kmdn malah dikutuk membawakan lagu2 cinta di kafenight ars unpar... :D

Tuesday, April 06, 2010

It's Just Free Life and Free (Urbanist's) Writing





Lampu sen kanan baru saja saya nyalakan. Saya ingin berputar balik di salah satu U-turn Jalan Panjang, Jakarta BArat. Perasaan tak ada yang membuat saya khawatir dengan tindakan saya ini.

..Kecuali motor di belakang saya...

Suara berdecit dari arah belakang saya terdengar jelas. Suara dari karet ban yang beradu dengan jalan beton busway membuat saya menatap spion kanan saya sejenak. Ada motor yang merangsek ke arah belakang motor saya. Untunglah saya segera memutar gas untuk menghindari benturan.

Benturan memang terhindarkan. Tapi suara teriakan laki-laki berteriak di belakang saya begitu mengganggu telinga. "Sini kamu!"... teriak suara itu, yang ternyata setelah saya toleh, seorang lelaki berseragam SMA..

Hmmm...Inilah Jakarta. Jadi orang baik saja tidak cukup. Jakarta sepertinya butuh lebih banyak orang baik yang kreatif... Saya berusaha menahan emosi. Melampiaskan emosi pada anak SMA yang emosian tak akan saya catat di portofolio saya...jadi saya berusaha memperlahan nafas saya yang mulai terbawa adrenalin... Dan sedikit terpejam...

Sepertinya pelajaran salah satu guru silat saya mengenai pengendalian diri menjadi berkah buat saya. Pelajaran itu tiba-tiba terbayang di kepala. Ucapan guru saya yang menyebut "Rendahkan ego, maklumi orang lain" itu membuat saya tiba-tiba ingin tersenyum saat menatap anak SMA emosian itu. Tiba-tiba terbayang bayangan seorang satpam yang kurus kecil dari, namun begitu galak. Saya tak tega untuk melawannya...sekali lagi.. ga pantas untuk portofolio saya... :)..

Akhirnya saya dekati dan katakan. "Maaf De".. Jadi gimana solusinya biar ade bisa cepet sampai tujuan?".... Apa perlu saya kasi ongkos jajan?".... Anak SMA itu terdiam. Dan anehnya, dia sepertinya terenyuh dan menelan ludah... dan tiba-tiba mengucapkan, "Maafkan saya Pak, tadi saya ga melihat... kebetulan saya sedang SMS-an".

Oh pantes. Begitu sering saya melihat pengendara yang sok multitasking. Mungkin anak SMA ini termasuk perkumpulan multitasking itu. Sepertinya kemampuan multitaskingnya membantunya untuk mengatur cepat adrenalinnya itu, sehingga tersadar akan kelalaiannya...


Hmm...Kami berpisah..Saya melanjutkan perjalanan.
Namun sialnya ..giliran saya yang menerawang jauh.. saya hentikan saja sejenak perjalanan di pinggir kios untuk menikmati C-1000. Minuman vitamin C ini memang membantu saat hidung terasa gatal karena flu..Itung-itung menyembuhkan diri..dan memberikan ruang waktu untuk menerawang.


Multitasking...itu adalah kondisi yang sering (harus) dilakukan saat ini. Saat teknologi semakin memangkas jarak dan waktu. Yang tersisa adalah "remote-remote" kepentingan yang ada di depan kita untuk segera ditekan. Tak butuh lah kita melangkah jauh untuk mencapai tujuan kepentingan kita. Sudah ada teknologi yang bisa membuat kita mengabaikan jarak dan waktu untuk mencapai tujuan...

Multitasking..membawa persoalan baru..Banyaknya kontrol yang harus menjadi bagian dari indera kita menjadikan kita sering kehilangan kontrol atas kerja hormon adrenalin. Emosi itu memang seringkali terjadi akibat harapan yang lama tertahan. Terbawa oleh keinginan, dan kadang hanya kita yang tahu... Adrenalin memang membantu kita fokus atas satu titik masalah.. Tapi Adrenalin yang tersalurkan pada kontrol yang salah hanya akan membuat emosi yang mengakibatkan keluarnya peluh secara sia-sia....

Multitasking memang rawan kelalaian. Tapi multitasking adalah senjata saat kita butuh sesuatu yang instant dan menghasilkan....

Dan satu hal lagi yang bisa jadi pelajaran saya..Sebanyak apapun "remote kontrol" di depan kita..yang menentukan pilihan itu kita.. bukan program yang ada di televisi..bukan stasion yang ada di radiotape..dan yang menentukan bukanlah jam dinding yang terus berputar..... multitasking dan dijajah kepentingan adalah situasi yang saling berlawanan.. multitasking itu konsekwensi... dan dijajah itu adalah sebuah missapresiasi...

Saya jadi ingin menantang anak SMA tadi..kapan-kapan dia harus pakai gadget yang lebih canggih lagi.. jadi saat bermotor bisa tetap bersms dan menelepon ria.. tanpa harus lalai dan emosi lagi..

Puisi Sore Para Urban



Sore

Pinggiran danau jadi coklat
tanda ikan mulai merekat tanah

Saatnya diri yang rapuh mengingat janji
Lihat mega tertunduk salut pada hari

Tabir waktu yang terbuka
Tinggalkan sisa keringat
Semua kini kan jadi dulu...


Kidung Malam
(sebuah re-creating yang terbias dari tulisan puisi Alla Noia-Guiseppe Ungeretti) :D

Salamku untuk dunia
yang membawakan cerita
tuk anak kecil tertidur malam

diantara detak detik jam dinding
suara-suara bercerita
kesendirian angin, malam, dan basahnya rerumputan

Hingga terlelap wajah di dalam bingkai kayu tua
menikmati alunan nafas
kini jadi titian mimpi

Terbitlah mimpi, bawalah hati
pada kerangka dunia baru
bernama esok hari



Obat Tidur

Pandangan abu-abuku
jadikan daun sekeras besi tua

kepala terantuk, bisa jadi salam
padaku yang belum mati

Hidup ini tirani
layaknya tersupiri bus malam kebut-kebutan
saatnya kini angkuh
jadi sarapan syaraf kantukku..


Sampai ke Rumah

Jauh aku berlari kencang
dengan tangan mengembang

lewati genangan
lewati terang
dan suara keras benturan batuan

Tak kurasa tanah yang menyekat
hingga rasa kuning pandangan mata
dekat kulit kuningmu
berada di pelukmu
terlelap

Hujan

Bukanlah bebatuan terbawa air bah
Tapi terbawa gunung mendung yang membuat terbelalak
membuat lari dan ucapkan hujatan

hilangkan sombong
tampilkan layu sesaat

Waktu

Seperti bajay dan ojek bertabrakan
di siang hari tempat bertopi dan lapar
terus berputar, hingga terlihat hanyalah gunung, horison, dan dalamnya laut

Kubutuhkan tongkat Musa
yang membuat awan datang membelah panas, memberi sejuk
hilangkan takut akan lintasan terik menimpa

Andai aku tak abai
tak harus aku rasakan gelap hingga ketiduran
hingga bisa rasakan mewah, rasakan sejuk
Berbaring di atas rumput
Mimpikan ilham..

(sedikit berbagi puisi hasil dari sesi clustering and re-creating creative writing.. :D )